Slow Jogging, Olahraga Ringan yang Bantu Panjang Umur dan Jaga Tulang

  • 30 Jun 2026 14:31 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Tren slow jogging atau lari pelan semakin diminati karena dinilai mudah dilakukan dan memberikan banyak manfaat kesehatan. Berbeda dengan lari berintensitas tinggi, slow jogging dilakukan dengan kecepatan santai sehingga seseorang masih dapat berbicara tanpa terengah-engah selama berlari.

Dokter dari RS Ortopedi Prof. Dr. R. Soeharso Surakarta, Jalianto dalam laman keslan.kemkes.go.id, menjelaskan bahwa slow jogging merupakan olahraga aerobik dengan intensitas rendah hingga sedang yang aman bagi berbagai kelompok usia. Menurutnya, aktivitas ini tidak hanya menyehatkan jantung dan paru-paru, tetapi juga berperan penting dalam menjaga kesehatan tulang, sendi, dan otot. "Aktivitas fisik teratur, termasuk lari santai, berhubungan dengan penurunan risiko kematian dan peningkatan kualitas hidup," ujarnya, dikutip dari laman Kementerian Kesehatan.

Ia menjelaskan, saat melakukan slow jogging, tubuh bekerja pada zona aerobik yang stabil sehingga jantung dapat bekerja lebih efisien tanpa menerima beban berlebihan. Kondisi tersebut membantu menurunkan tekanan darah, mengontrol kadar gula darah dan profil lemak, sekaligus mengurangi peradangan kronis yang berkaitan dengan berbagai penyakit tidak menular.

Dari sisi ortopedi, Jalianto menuturkan bahwa slow jogging termasuk aktivitas weight-bearing atau menopang berat badan yang bermanfaat untuk merangsang pembentukan tulang baru. Aktivitas ini juga membantu meningkatkan kepadatan tulang, memperkuat otot penyangga sendi, menjaga kesehatan tulang rawan, serta mempertahankan mobilitas sendi sehingga dapat menurunkan risiko osteoporosis maupun keluhan nyeri sendi di kemudian hari.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa olahraga tetap harus dilakukan secara bertahap. "Intensitas yang berlebihan tanpa adaptasi dapat meningkatkan risiko cedera akibat penggunaan berulang (overuse injury)," katanya. Ia juga meluruskan anggapan bahwa berlari selalu merusak lutut. Menurutnya, penelitian menunjukkan lari dengan intensitas ringan hingga sedang justru tidak meningkatkan risiko osteoartritis apabila dilakukan dengan teknik yang benar, menggunakan alas kaki yang sesuai, dan tidak memaksakan diri saat muncul nyeri.

Untuk pemula, Jalianto menyarankan memulai slow jogging selama 10 hingga 15 menit sebanyak tiga kali dalam seminggu, kemudian meningkatkan durasi secara bertahap. Pemanasan, peregangan, serta penggunaan sepatu dengan bantalan yang baik juga menjadi bagian penting agar tubuh dapat beradaptasi dan risiko cedera dapat diminimalkan.

Selain menjaga kesehatan tulang dan jantung, slow jogging juga diketahui dapat meningkatkan kualitas tidur, membantu mengendalikan berat badan, mengurangi stres, serta memperbaiki suasana hati. Dengan dilakukan secara rutin dan konsisten, olahraga sederhana ini menjadi salah satu cara mudah untuk menjaga kualitas hidup sekaligus mendukung harapan hidup yang lebih panjang. (Hil)

Sumber: dr. Jalianto, RS Ortopedi Prof. Dr. R. Soeharso Surakarta; Kementerian Kesehatan RI (keslan.kemkes.go.id).

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....