Mengabadikan Gemolong lewat Sastra, Komunitas Ini Luncurkan 'Kala Senja di Salem'

  • 30 Jun 2026 14:46 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID., Surakarta - Komunitas Penulis Gemolongan (KPG) menegaskan komitmennya dalam merawat sekaligus memperkenalkan budaya lokal melalui karya sastra. Komitmen tersebut diwujudkan dengan meluncurkan buku bunga rampai "Kala Senja di Salem" dalam kegiatan bertajuk "Launching Buku dan Talkshow Kala Senja di Salem: Satu Pena Sejuta Cerita". Acara tersebut diselenggarakan di kawasan barat Kantor Kecamatan Gemolong, Kabupaten Sragen, Minggu 14 Juni 2026 lalu. Peluncuran buku ini sekaligus menjadi momentum bagi KPG untuk memperkenalkan kiprahnya kepada masyarakat.

Ketua KPG, Sri Suparti, mengatakan komunitas yang dipimpinnya lahir dari ruang diskusi sederhana para penulis yang memiliki kepedulian terhadap literasi. "KPG ini berawal dari kongkow penulis Gemolong yang awalnya hanya terdiri dari tujuh orang. Kini anggotanya telah mencapai 28 orang. Setiap bulan kami berkumpul untuk bedah karya maupun berbagi pengalaman dan tips menulis," ujarnya. Ia menambahkan, KPG telah resmi terdaftar di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sragen sejak 4 Mei 2026 sebagai komunitas literasi yang aktif berkegiatan.

"Kala Senja di Salem" merupakan karya perdana KPG yang memuat 62 tulisan, terdiri atas 52 cerpen dan 10 puisi karya 18 penulis dari wilayah eks-Kawedanan Gemolong. Dalam 336 halaman, buku tersebut mengangkat berbagai sisi kehidupan Gemolongan, mulai dari aktivitas masyarakat, kuliner, tempat-tempat ikonik, hingga peristiwa sejarah yang pernah terjadi di kawasan tersebut sebagai bagian dari identitas budaya lokal.

Kepala Bidang Pembinaan Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sragen, Johny Adhi Aryawan, menilai buku tersebut menjadi ruang bertemunya beragam perspektif budaya. Dalam sesi bedah buku yang dimoderatori Muhammad Ilham Sofyan dari Relawan Literasi Masyarakat (Relima) Perpusnas Lokus Sragen tersebut Johny mengatakan, "Buku 'Kala Senja di Salem' ini merupakan bertemunya kreator lintas sosio-kultural. Penulisnya beragam, baik dari rentang usia ataupun latar belakang profesi yang memiliki aneka pemahaman terhadap warisan budaya dan kehidupan sosial di Gemolong Raya." Menurut Johny, pendekatan yang digunakan dalam buku ini menjadi cara yang relevan untuk mempelajari budaya melalui karya fiksi.

Apresiasi terhadap peluncuran buku juga disampaikan Wakil Bupati Sragen, H. Suroto. Menurutnya, karya sastra dapat menjadi sarana untuk mendokumentasikan sejarah dan budaya daerah. "Jangan hanya berhenti di Gemolong. Lakukan pendekatan kepada para tokoh sepuh untuk menggali sejarah di Gemolong. Semoga KPG bisa berjuang untuk Sragen juga," pesannya saat membuka kegiatan.

Dukungan serupa datang dari Camat Gemolong, Nugroho Dwi Wibowo. Ia berharap keberadaan KPG tidak hanya melahirkan karya, tetapi juga menjadi penggerak tumbuhnya budaya literasi di tengah masyarakat. "Jangan pelit berbagi ilmu agar kemanfaatannya bisa dipakai di semua jajaran," ujarnya. Ia juga mendorong KPG merangkul pemerintah desa, tokoh masyarakat, serta berbagai komunitas untuk memperluas gerakan literasi di Gemolong.

Selain peluncuran dan bedah buku, kegiatan yang berlangsung selama setengah hari tersebut juga dimeriahkan dengan lomba baca puisi tingkat SD, SMP, dan SMA se-Kawedanan Gemolong. Para juara dari setiap jenjang diberi kesempatan tampil pada penghujung acara sebagai bagian dari upaya KPG menumbuhkan minat literasi sekaligus menyiapkan regenerasi penulis muda. Melalui "Kala Senja di Salem", KPG berharap karya sastra tidak hanya menjadi media berekspresi, tetapi juga menjadi ruang untuk merekam, menjaga, dan memperkenalkan kekayaan budaya Gemolongan kepada masyarakat yang lebih luas. (Dinar Rusydiana)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....