Asal Usul Aba-Aba Action dan Cut

  • 30 Jun 2026 00:11 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Kalimat "Lights, Camera, Action!" sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari dunia perfilman. Aba-aba tersebut terdengar sederhana, tetapi ternyata memiliki sejarah panjang yang berawal dari era film bisu.

Mengutip akun Instagram @directedbyryan_, penggunaan kata "action" dan "cut" bukan sekadar tradisi di lokasi syuting. Kedua istilah itu lahir karena kebutuhan teknis agar proses produksi film berjalan lebih efektif.

Sejarahnya dikaitkan dengan D. W. Griffith, salah satu sutradara paling berpengaruh pada awal abad ke-20. Saat itu, ia membutuhkan instruksi yang singkat dan jelas agar kru serta para aktor dapat bergerak serempak ketika pengambilan gambar dimulai.

Dari kebutuhan tersebut, lahirlah tiga aba-aba utama, yaitu "Lights", "Camera", dan "Action". Lampu dinyalakan lebih dulu, kamera mulai merekam, kemudian aktor diperintahkan memulai adegan melalui kata "action".

Pemilihan kata "action" juga memiliki alasan tersendiri. Dibandingkan kata "start", istilah tersebut dianggap lebih spesifik karena hanya ditujukan kepada aktor untuk mulai beraksi ketika kamera sudah berjalan.

Selain itu, secara linguistik kata "action" diawali huruf vokal terbuka sehingga lebih mudah diteriakkan dengan lantang di lokasi syuting yang ramai. Instruksi tersebut dapat terdengar jelas oleh seluruh kru tanpa menimbulkan kebingungan.

Sementara itu, aba-aba "cut" digunakan sebagai penanda berakhirnya pengambilan gambar. Istilah ini berasal dari teknik penyuntingan film pada masa lalu yang masih menggunakan pita seluloid.

Sebelum era digital, editor benar-benar memotong gulungan film menggunakan alat yang dikenal sebagai film splicer. Perintah "cut" dari sutradara menjadi acuan bagi editor untuk mengetahui batas akhir sebuah adegan yang nantinya akan diproses.

Hingga kini, perkembangan teknologi memang telah mengubah cara produksi dan penyuntingan film. Meski demikian, istilah "action" dan "cut" tetap dipertahankan karena telah menjadi bahasa universal di industri perfilman dunia.

Dari balik dua kata sederhana tersebut, tersimpan sejarah panjang tentang evolusi teknik produksi film. Tradisi yang lahir lebih dari seabad lalu itu masih terus hidup di setiap lokasi syuting hingga sekarang.

(Ridho Wicaksono)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....