Bahaya Gonta-Ganti Oli Mesin, Fakta atau Mitos?

  • 22 Jun 2026 18:50 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Banyak pemilik mobil masih bingung soal pemilihan viskositas oli mesin. Tidak sedikit yang hari ini memakai oli SAE 0W-20, lalu beberapa bulan kemudian pindah ke 5W-30 atau bahkan 10W-40 karena mengikuti saran bengkel, teman, atau tren di internet. Akibatnya muncul pertanyaan yang cukup sering diperdebatkan: apakah sering berganti-ganti viskositas oli bisa membuat mesin mobil cepat rusak?

Pada dasarnya, mesin mobil modern memang dirancang untuk bekerja optimal pada spesifikasi oli tertentu yang sudah direkomendasikan pabrikan. Viskositas oli mempengaruhi kemampuan pelumasan, pendinginan, hingga tekanan oli di dalam mesin. Namun bukan berarti setiap pergantian kekentalan oli otomatis membuat mesin rusak. Selama viskositas yang digunakan masih dalam batas aman dan sesuai standar API maupun SAE yang dianjurkan, mesin umumnya tetap bisa bekerja normal.

Masalah biasanya mulai muncul ketika pemilik kendaraan terlalu sering menggunakan oli yang jauh berbeda dari spesifikasi bawaan mesin. Contohnya mesin yang dirancang untuk oli encer seperti 0W-20 atau 5W-30 tiba-tiba rutin diisi oli sangat kental seperti 20W-50. Oli yang terlalu kental dapat membuat sirkulasi pelumasan menjadi lebih lambat saat mesin dingin, sehingga beberapa komponen mengalami gesekan lebih tinggi sebelum oli mencapai seluruh bagian mesin.

Sebaliknya, menggunakan oli yang terlalu encer pada mesin yang sudah berumur juga kadang menimbulkan masalah. Mesin dengan celah komponen yang mulai aus biasanya membutuhkan pelumasan sedikit lebih tebal agar konsumsi oli tidak berlebihan dan suara mesin tetap halus. Jika tetap dipaksa memakai oli terlalu encer, potensi rembesan oli, penguapan lebih cepat, hingga suara mesin kasar bisa saja terjadi.

Meski begitu, sering berpindah viskositas sebenarnya tidak langsung membuat mesin jebol atau rusak parah. Yang lebih berbahaya justru adalah penggunaan oli palsu, telat ganti oli, atau memakai spesifikasi yang benar-benar tidak sesuai kebutuhan mesin. Banyak mobil dengan kilometer tinggi justru sengaja memakai viskositas sedikit lebih kental demi menjaga tekanan oli tetap stabil dan mengurangi gejala aus pada mesin.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah kondisi iklim dan pola penggunaan kendaraan. Mobil yang sering digunakan di daerah panas, macet, atau membawa beban berat kadang membutuhkan karakter oli berbeda dibanding mobil harian biasa. Karena itu beberapa bengkel memang menyarankan penyesuaian viskositas tertentu, tetapi tetap tidak boleh asal lebih kental atau lebih encer tanpa pertimbangan teknis.

Ko Lung Lung Founder Dokter Mobil Indonesia menambahkan penting untuk mengetahui alasan mengganti SAE atau viskositas oli mesin mobil. Sederhananya apabila hanya mengganti selisih tipis misalkan dari SAE 10w-30 menjadi SAE 5w-30 itu aman. Namun jangan melakukan pergantian dengan terlampau jauh misalkan spesifikasi SAE 10-40 diganti menjadi yang sangat kental SAE 20w-60 itu justru akan berpotensi menimbulkan kerusakan pada komponen mesin.

(Ihsan Ramadhana)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....