Transmisi AGS Disebut Tidak Cocok di Indonesia, Kenapa?

  • 19 Mei 2026 15:54 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Transmisi AGS atau Auto Gear Shift sempat menjadi perbincangan hangat di dunia otomotif Indonesia. Teknologi ini pada dasarnya merupakan transmisi manual yang dioperasikan secara otomatis menggunakan aktuator dan komputer. Banyak produsen memilih sistem AGS karena biaya produksinya lebih murah dibanding transmisi otomatis konvensional CVT atau torque converter. Selain itu, konsumsi bahan bakarnya juga terkenal cukup irit sehingga menarik perhatian konsumen yang mencari mobil ekonomis.

Namun dibalik keunggulannya, transmisi AGS juga cukup sering mendapatkan keluhan dari pengguna, terutama di kondisi lalu lintas Indonesia yang terkenal padat dan stop-and-go. Banyak pemilik mobil mengeluhkan perpindahan gigi terasa lambat, muncul gejala jedug saat akselerasi, hingga mobil terasa seperti “bingung” ketika diajak merayap di kemacetan. Hal inilah yang membuat sebagian orang merasa pengalaman berkendara AGS kurang senyaman transmisi otomatis biasa.

Sebenarnya keluhan tersebut bukan sepenuhnya karena AGS adalah teknologi buruk. Karakter dasar AGS memang berbeda dengan transmisi otomatis konvensional. Karena basisnya berasal dari transmisi manual, maka perpindahan gigi tetap memiliki jeda layaknya pengemudi sedang menginjak kopling dan memindahkan gigi secara manual. Saat mobil digunakan di jalan lengang, karakter ini masih terasa normal. Tetapi ketika dipakai menghadapi kemacetan khas kota besar Indonesia, perpindahan gigi yang sering terjadi membuat hentakan lebih mudah terasa.

Selain itu, kondisi lalu lintas Indonesia yang padat juga membuat sistem kopling AGS bekerja lebih keras. Ketika mobil terus merayap perlahan dalam waktu lama, aktuator kopling akan terus membuka dan menutup secara berulang. Jika pengemudi memiliki kebiasaan menahan mobil di tanjakan hanya dengan pedal gas atau terlalu sering creeping tanpa jeda, umur komponen kopling bisa lebih cepat aus. Dari sinilah muncul keluhan seperti getaran, perpindahan gigi kasar, hingga indikator transmisi bermasalah.

Meski demikian, tidak semua pengguna AGS merasa kecewa. Banyak juga pemilik yang puas karena konsumsi BBM yang lebih efisien apabila dibandingkan teknologi matic lain seperti CVT, terutama untuk penggunaan harian. Kunci utamanya ada pada adaptasi gaya berkendara. Pengemudi AGS biasanya perlu memahami kapan harus melepas pedal gas sedikit saat perpindahan gigi agar hentakan berkurang dan transmisi terasa lebih halus.

Ko Lung Lung Founder Dokter Mobil Indonesia memberikan analogi sederhana bahwa transmisi AGS itu bukan tergolong sebagai AT, MT, ataupun CVT. AGS adalah transmisi manual yang koplingnya dioperasikan oleh aktuator atau piston. Hal ini lah yang menjadikan transmisi AGS terasa berjeda, maka pengemudi harus lebih waspada ketika sedang berhenti di jalan yang menanjak. Sebab ketika melepas pedal rem dan tidak segera switch ke pedal gas, maka ada kemungkinan mobil akan mundur.

Beberapa produsen mobil tidak mengekspektasi bahwa lalu lintas di Indonesia ini cukup padat, sehingga dipastikan akan banyak terjadi stop and go di jalan. Hal ini lah yang bisa menjadi penyebab komponen aktuator atau piston AGS akan lebih cepat aus atau rusak. Karena teknologi ini tidak banyak dipakai menyebabkan sparepart ini cenderung sedikit susah untuk dicari dan memiliki harga yang cukup mahal.

(Ihsan Ramadhana)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....