Filateli di Mata Gen Z: antara Hobi Lama dan Tren Koleksi Baru

  • 26 Mar 2026 19:36 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Filateli atau kegiatan mengoleksi perangko kini menghadapi tantangan besar di era digital, terutama dalam menarik minat generasi muda. Di tengah pergeseran gaya komunikasi yang serba instan, perangko tidak lagi menjadi kebutuhan utama, melainkan bertransformasi menjadi bagian dari koleksi dan warisan budaya.

Data dari Perkumpulan Filatelis Indonesia menunjukkan bahwa mayoritas anggota filateli saat ini masih didominasi oleh kalangan dewasa hingga senior. Namun demikian, berbagai upaya terus dilakukan untuk memperkenalkan filateli kepada generasi muda, termasuk pelajar dan mahasiswa, melalui kegiatan edukasi dan pameran.

Sementara itu, Pos Indonesia mencatat adanya pergeseran fungsi perangko dalam beberapa dekade terakhir. Jika sebelumnya perangko digunakan secara luas untuk kebutuhan surat-menyurat, kini penggunaannya lebih banyak bergeser menjadi produk koleksi, terutama melalui penerbitan edisi-edisi khusus bertema budaya, tokoh nasional, dan peristiwa penting.

Fenomena ini sejalan dengan tren global yang dilaporkan oleh Universal Postal Union, yang menyebutkan bahwa volume surat fisik terus menurun di berbagai negara akibat digitalisasi. Meski demikian, perangko tetap memiliki nilai sebagai benda koleksi yang mencerminkan identitas dan sejarah suatu bangsa.

Di kalangan generasi Z, minat terhadap filateli memang tidak lagi menjadi arus utama. Namun, ketertarikan tetap muncul dalam bentuk yang berbeda. Generasi ini cenderung melihat perangko sebagai objek visual yang unik dan memiliki nilai estetika, bukan semata alat kirim surat.

Selain itu, tren koleksi di kalangan anak muda yang berkembang saat ini—seperti kartu koleksi, merchandise edisi terbatas, hingga aset digital—membuka peluang bagi filateli untuk beradaptasi. Perangko dapat diposisikan sebagai bagian dari budaya koleksi modern yang memiliki nilai historis sekaligus potensi investasi.

Upaya mendekatkan filateli dengan generasi muda terus dilakukan, baik oleh komunitas maupun institusi terkait. Pemanfaatan platform digital, pameran virtual, serta kolaborasi dengan tema-tema populer menjadi strategi untuk menjembatani hobi lama ini dengan minat generasi baru.

Dengan berbagai perubahan tersebut, filateli di era digital tidak sepenuhnya ditinggalkan, melainkan mengalami transformasi. Di mata Gen Z, filateli berpotensi menjadi hobi yang relevan kembali, selama mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai sejarah yang dikandungnya. (Wiwik)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....