Kasta Additive Oli Mesin, Jangan Salah Pilih!

  • 23 Feb 2026 11:25 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Additive oli mesin mobil semakin populer di Indonesia, terutama di kalangan pemilik mobil harian hingga mobil berusia tua. Banyak produk additive diklaim mampu membuat mesin lebih halus, irit bahan bakar, bahkan mengembalikan performa mesin. Namun faktanya, additive oli memiliki hirarki atau kasta fungsi yang berbeda-beda, dan tidak semuanya cocok untuk setiap kondisi mesin.

  1. Additive Detergent & Dispersant (Kasta Dasar), additive ini bertugas menjaga kebersihan mesin dengan cara membersihkan kerak karbon dan lumpur oli. Detergent mencegah kotoran menempel, sementara dispersant menjaga kotoran tetap tersuspensi di dalam oli. Jenis additive ini sebenarnya sudah menjadi standar di oli mesin modern.

  2. Additive Anti-Wear & Extreme Pressure (EP), kasta ini fokus pada perlindungan komponen mesin dari gesekan dan keausan. Additive anti-wear bekerja membentuk lapisan pelindung mikro pada permukaan logam mesin.

  3. Additive Friction Modifier, friction modifier berfungsi mengurangi hambatan gesek antar komponen mesin, sehingga mesin terasa lebih ringan dan halus. Efek yang sering dirasakan adalah respons mesin yang lebih nyaman dan efisiensi bahan bakar yang sedikit meningkat.

  4. Additive Seal Conditioner, seal conditioner ditujukan untuk mesin mobil yang mulai mengalami kebocoran ringan. Additive ini membantu melembutkan kembali seal dan gasket yang mengeras akibat usia dan panas mesin. Jenis ini sering dipakai pada mobil berumur di atas lima tahun yang mulai menunjukkan rembesan oli ringan.

  5. Additive Oil Treatment Berbasis Sintetis (Kasta Premium), additive oil treatment berfungsi meningkatkan stabilitas oli mesin, menambah lapisan perlindungan, dan mengurangi suara kasar mesin. Di pasar Indonesia, jenis ini paling banyak dijual sebagai produk aftermarket.

  6. Additive Keramik dan Nano Technology (Kasta Elite), ini adalah kasta tertinggi sekaligus paling kontroversial. Additive berbasis keramik atau nano diklaim mampu membentuk lapisan keras pada permukaan logam mesin untuk mengurangi gesekan ekstrem.

Ko Lung Lung Founder Dokter Mobil Indonesia berpendapat apabila pengemudi ingin mendapatkan konsumsi BBM mobil lebih efisien diperlukan penambahan additive pelumas atau pelicin oli mesin mobil. Memang benar terdapat hirarki atau tingkatan additive oli mesin mulai dari liquid atau cair, ceramic technology, wolfr sulfate atau w2s, dan tertinggi adalah teknologi nano graphene. Nano graphene ini diklaim memiliki daya heat transfer paling baik sehingga performa mesin jauh lebih dingin dan konsumsi BBM dapat jauh lebih efisien.

(Ihsan Ramadhana)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....