Ikebana, Seni Merangkai Bunga yang Eksis
- 30 Mar 2025 05:41 WIB
- Surakarta
KBRN, Surakarta: Seni merangkai bunga dari Jepang disebut Ikebana yang berarti "bunga yang dihidupkan" atau "seni mengatur bunga". Ikebana bukan sekadar menyusun bunga secara estetis, tetapi juga mencerminkan filosofi keseimbangan, harmoni, dan penghormatan terhadap alam.
Dalam buku "Ikebana: The Art of Arranging Flowers" yang ditulis oleh Shozo Sato dituliskan tentang ciri Khas Ikebana, yaitu bentuknya asimetri dan menggunakan konsep ruang kosong (ma) untuk menciptakan keseimbangan, biasanya terdiri dari tiga elemen utama yang melambangkan langit (ten), manusia (jin), dan bumi (chi). Menggunakan sedikit elemen tetapi tetap memberikan kesan mendalam, dan selain bunga, Ikebana juga memakai batang, daun, dan bahkan cabang kering.
Ikebana berkembang sejak abad ke-6 ketika agama Buddha masuk ke Jepang dari Tiongkok dan Korea. Dalam tradisi Buddha, ada kebiasaan mempersembahkan bunga di altar sebagai penghormatan kepada para dewa dan leluhur.
Dipelopori oleh Senkei Ikenobo, seorang pendeta Buddha dari kuil Rokkaku-dō di Kyoto pada abad ke-15 yang mulai mengembangkan seni merangkai bunga dengan prinsip keindahan dan keseimbangan. Nama Ikenobo kemudian menjadi aliran pertama dan tertua dalam Ikebana.
Selain aliran pertama dan tertua, ikenobo menekankan prinsip keseimbangan antara langit (ten), manusia (jin), dan bumi (chi). Gaya terkenal dari aliran Ikebono adalah Rikka (gaya formal dan kompleks), Shoka (sederhana dan elegan) yang cocok untuk yang menyukai gaya klasik dan filosofis.
Kemudian ada aliran Ohara yang menekankan keindahan lanskap alami dengan berbagai tingkat ketinggian. Didirikan oleh Unshin Ohara pada abad ke-19 dengan memperkenalkan konsep Moribana, yaitu penyusunan bunga dalam wadah datar untuk menciptakan lanskap mini.
Konsep ini menekankan nuansa alami dan pemandangan musiman. Cocok untuk yang menyukai gaya naturalis dan ekspresi alam.
Aliran ketiga adalah Sogetsu aliran Ikebana modern dan eksperimental didirikan oleh Sofu Teshigahara pada 1927. Gaya ini lebih fleksibel, bebas bereksperimen dengan bahan selain bunga seperti logam, plastik, dan kayu, bisa dilakukan di mana saja, tidak hanya dalam upacara tradisional, dan sangat cocok untuk yang menyukai gaya modern, kreatif, dan inovatif.
Berikutnya aliran Koryu lebih ke tradisi klasik yang berakar pada samurai, salah satu aliran klasik yang berkembang pada periode Edo. Ini menekankan kesederhanaan dan struktur yang kuat, cocok bagi yang ingin memahami aspek historis Ikebana.
Yang terakhir adalah aliran Ichiyo, aliran ini mengutamakan Kebebasan Ekspresi didirikan oleh Meikof Kasuya pada 1937. Aliran ini menciptakan keseimbangan antara kepribadian perangkai dan ruang di sekitarnya.
Cocok untuk mereka yang menyukai keseimbangan antara tradisi dan kreativitas pribadi. Selain sebagai seni, Ikebana juga berhubungan dengan Zen dan praktik meditasi, dimana proses merangkai bunga dianggap sebagai bentuk refleksi dan ketenangan batin.
Sampai sekarang seni Ikebana tetap eksis dan digunakan dalam berbagai kesempatan. Baik untuk keperluan spiritual, seremonial, maupun dekoratif. (Wiwik)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....