Ayo Tonton! Wayang Orang Itu Eye Catching Lho..
- 15 Mar 2024 12:57 WIB
- Surakarta
KBRN, Surakarta: Dalam siaran dialog interaktif JAGONGAN Pro 4 RRI Surakarta Senin, (11/3/2024), pukul 09.00 - 10.00 WIB, menghadirkan narasumber bukan dari kalangan pelaku seni, meski topik bahasan dialog mengenai seni budaya, yakni "Wayang Orang Sudut Pandang Generasi Milenial, Z hingga sekarang."
Mereka adalah dr. Dyah Wulaningsih Retno Edi, dan Demetria Ulin Suci Aprilla, S. Farm, keduanya merupakan generasi milenial yang ternyata pecinta Wayang Orang.
Dyah Wulaningsih menyampaikan, meski ada anggapan bahwa wayang itu jadul dan hanya cocok untuk kalangan orangtua, namun dirinya sebagai generasi milenial sejak kecil sudah tertarik dengan seni Wayang. Dari lingkungan keluarga, Wulan sapaan akrabnya, sudah dikenalkan wayang dengan mendengarkan kased melalui tape recorder dengan dalang kondang seperti Ki Anom Suroto maupun Ki Manteb Sudarsono. Selain itu juga menonton Wayang Orang melalui TVRI.
"Sejak kecil saya sudah dikenalkan wayang oleh orang tua, dulu melalui kaset sudah mendengarkan wayang kulit Ki nartosodo, Ki Manteb Sudarsono, Ki Anom Duroto, dan lain-lain. Dan ketika masih sekolah dasar mulai menonton wayang orang Sekar Budaya Nusantara Jakarta melalui TVRI Nasional," ungkap Wulan kepada Host JAGONGAN Ali Marsudi.
Bagi Wulan yang seorang dokter ini, ternyata memiliki lingkungan seni yang kental, yakni Pakdhenya seorang aktor Wayang Orang dan kakeknya seorang dalang. Ia juga memberikan alasan bisa tertarik dengan Wayang Orang, diantaranya karena para pemainnya eye catching dengan make up dan kostum khas. Selain itu seni wayang ini memiliki daya tarik tersendiri yakni mampu menyentuh emosi penonton dengan dialog-dialognya maupun tembangnya. Sehingga sebagaimana seni teater lainnya, wayang orang juga layak ditonton kalangan muda.
"Jadi menarik ya, pemainnya eye catching dari make up, kostum, tarian, view dari depan panggung tampak megah, cantik2, ganteng2 dan tariannya energik. Emosi penonton bisa terbangun naik turun seperti halnya saat nonton teater. Dan yang paling spesial adalah nembangnya, meski sejujurnya tidak paham tentang arti tembang namun bisa tersentuh," jelas Wulan.
Sebagai bentuk rasa cinta kepada wayang orang, Wulan rajin menonton tampilan wayang baik RRI Surakarta, Sriwedari, Ngesti Pandawa Semarang, bahkan wayang orang Barata Jakarta, juga sajian budaya dari Keraton Yogyakarta, Mangkunegaran, dan Keraton Surakarta.
“Menonton wayang orang dapat menikmati berbagai dimensi. Akan lebih baik jika penonton memiliki bekal penguasaan terhadap cerita Ramayana dan Mahabharata, karena akan memudahkan untuk memahami wayang orang,” ucapnya.

Siaran JAGONGAN Pro 4 RRI Surakarta, dengan narasumber dua orang profesional muda pecinta wayang orang, masing-masing dr. Dyah Wulaningsih Retno Edi, dan Demetria Ulin Suci Aprilla, S. Farm. (Foto: Dokumentasi Pro4 RRI Surakarta)
Sementara itu Demetria Ulin Suci Aprilla, S. Farm, seorang Apoteker yang biasa disapa Ulin ini mengaku mulai terpapar dunia wayang orang semenjak tahun 2023. Setelah itu bagaikan kecanduan dan ingin menonton wayang terus-menerus bahkan ingin mengajak teman-teman generasi muda yang lain untuk mencintai wayang orang. Meski sebagai Apoteker, namun dunia seni juga tidak jauh darinya karena Ibunya adalah seorang penari.
“Sebagai orang yang lahir dan tinggal di tinggal di Surakarta, orang tua berasal juga dari Surakarta, saya sejak kecil juga sudah sering mendengarkan cerita tentang budaya Jawa termasuk wayang orang,” ucapnya.
Bukan tanpa alasan Ulin mencintai dunia wayang, karena ibunya adaah seorang penari, sehingga darah senipun mengalir ditubuhnya meski itu sebatas kecintaan menikmati pertunjukan wayang orang.
“Mendengarkan musik karawitan saat menyaksikan wayang orang terasa selaras, tentram kita dibawa ke dalam suasana magic tertentu, sehingga mendapatkan pengalaman jiwa,” ucapnya.
Ia juga menyarankan kepada penyelenggara pentas wayang, bisa membuat sinopsis untuk dibagikan kepada penonton, agar dapat membantu dalam memahami cerita atau lakon yang dipentaskan.
“Sinopsis bisa berupa selebaran, atau memanfaatkan teknologi sekarang, misalnya dengan cara memasang sinopsis di area pintu masuk Gedung Gedung pertunjukan, untuk bisa dipotret atau melalui scan barcode melalui gadget masing-masing penonton,” kata Ulin.
Atas kecintaan dan atensi terhadai seni wayang, kedua prefesional muda dibidang medis itupun juga aktif menulis serta mempublish informasi dan pengalaman seputar wayang orang, melalui Blok pribadi maupun akun sosial media. Dengan cara itu mereka juga sudah memberikan informasi kepada kalangan muda tentang seni tradisi wayang orang. (Ali Marsudi)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....