Solo Is Solo, Lakukan Revitalisasi Koridor Gatsu Jadi Pusat Kebudayaan Urban
- 16 Sep 2026 10:00 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta- Kawasan Solo Raya terus mempercantik diri sebagai pusat gaya hidup perkotaan yang ramah kantong bagi generasi muda. Memasuki September 2026, pergeseran tren lifestyle di Surakarta dan sekitarnya semakin terasa, ditandai dengan tumbuhnya creative hub, tempat nongkrong estetik, serta ruang ekspresi anak muda di berbagai sudut kota.
Kota yang selama ini dikenal dengan ritme hidup tenang dan nyaman atau slow living, kini menawarkan pengalaman urban yang lebih dinamis. Salah satunya terlihat di Koridor Gatot Subroto hingga Ngarsopuro yang berkembang menjadi ruang interaksi sosial, seni jalanan, dan aktivitas ekonomi kreatif anak muda Surakarta.
Gerakan Solo Is Solo turut mendorong perubahan wajah kawasan tersebut dengan merangkul seniman mural dan komunitas lokal. Pertokoan tua di sepanjang koridor dialihfungsikan menjadi galeri seni publik, sementara deretan mural menghadirkan visual khas yang menjadikan kawasan ini salah satu ruang favorit untuk menikmati suasana kota sekaligus mengabadikan momen.
Salah seorang pengunjung, Faizal, mengatakan daya tarik Gatsu-Ngarsopuro terletak pada suasananya yang santai dan pilihan aktivitas yang relatif terjangkau. “Saya suka datang ke sini karena suasananya santai, banyak mural, ada musik, dan pilihan makanannya juga cukup terjangkau. Jadi tidak harus masuk kafe untuk bisa menikmati suasana kota,” kata Faizal.
Memasuki malam hari, suasana koridor semakin semarak melalui Gatsu Night Market yang digelar setiap Sabtu malam pukul 17.00 hingga 22.00 WIB. Jalur pedestrian dipenuhi gerai UMKM, lapak kuliner, kopitiam, hingga angkringan kekinian yang menawarkan beragam jajanan lokal dengan harga yang ramah bagi kantong anak muda.
Ruang ekspresi seni juga menjadi bagian penting dari kehidupan kawasan tersebut. Pertunjukan musik jalanan atau busking dari berbagai genre rutin mewarnai suasana malam, sehingga pengunjung tidak hanya datang untuk makan atau berfoto, tetapi juga menikmati pertunjukan dan berinteraksi dengan komunitas.
Perwakilan gerakan Solo Is Solo,Irul Hidayat, mengatakan pengembangan kawasan tersebut tidak sekadar mempercantik ruang kota, tetapi juga menghadirkan ruang bersama bagi seniman, komunitas, pelaku UMKM, dan masyarakat. “Kami ingin ruang ini tidak hanya menjadi tempat orang lewat, tetapi menjadi ruang yang hidup. Ada seni, ada komunitas, ada UMKM, dan masyarakat bisa menikmati semuanya tanpa harus merasa bahwa ruang kreatif itu mahal,” ujarnya.
Pemerintah Kota Surakarta turut menjaga keamanan dan kenyamanan kawasan dengan mengatur pemanfaatan koridor sebagai ruang ramah pejalan kaki pada waktu tertentu. Transformasi Gatsu-Ngarsopuro menunjukkan bagaimana ruang kota dan kawasan heritage dapat dihidupkan kembali secara relevan, mempertemukan tradisi, seni kontemporer, ekonomi kreatif, dan gaya hidup santai yang kini menjadi bagian dari wajah baru anak muda Solo.(Hanan Rahkmawati/UIN-Magang)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....