Payung: Dari Naungan Matahari hingga Simbol Kebesaran
- 14 Sep 2026 12:36 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta- Payung telah dikenal manusia sejak ribuan tahun lalu, jauh sebelum digunakan sebagai pelindung dari hujan. Jejak penggunaannya tercatat dalam peradaban Mesir kuno sebagai peneduh dari terik matahari, sekaligus menjadi bagian dari kehidupan kalangan bangsawan dan lingkungan kerajaan.
Dari The Metropolitan Museum of Art (The Met), New York, djelaskan penggunaan payung atau peneduh matahari dalam peradaban Mesir kuno diperkirakan telah ada sejak sekitar 2450 hingga 1950 sebelum Masehi. Sejumlah relief dan lukisan pada makam menunjukkan keberadaan benda tersebut sebagai bagian dari kehidupan masyarakat pada masa itu.
Pada masa awal, bentuk payung belum seperti yang dikenal sekarang. Benda tersebut berupa kain yang direntangkan pada struktur penyangga dan ditopang sebuah tongkat. Fungsi utamanya memberikan keteduhan dari matahari, sehingga bentuk awal payung lebih tepat dipahami sebagai pelindung dari panas.
Seiring perkembangan budaya dan teknologi, payung dibuat menggunakan berbagai bahan dan bentuk. Di Tiongkok, misalnya, berkembang payung tradisional yang menggunakan bambu dan kertas, sementara di Jepang penggunaan kertas, bambu, dan bahan pelapis juga menjadi bagian dari perkembangan kerajinan payung.
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi RI – Data Warisan Budaya menyebutkan bahwa payung kemudian tidak hanya berfungsi sebagai benda pelindung, tetapi juga menjadi simbol sosial dan kebesaran. Dalam budaya Jawa, payung dikenal dengan istilah songsong dan penggunaannya berkaitan dengan kedudukan sosial serta lingkungan kerajaan.
Tradisi tersebut berkembang menjadi bagian dari berbagai upacara keraton. Payung tertentu digunakan sebagai perlengkapan upacara sekaligus penanda kebesaran, dengan bentuk, warna, dan ornamen yang memiliki makna sesuai kedudukan maupun keperluan penggunaannya.
Di Jawa Tengah, tradisi pembuatan payung juga berkembang menjadi kerajinan masyarakat. Salah satunya Payung Juwiring di Klaten yang ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Tradisi tersebut berkembang sejak abad ke-19 dan memiliki kaitan dengan kebutuhan payung kebesaran di lingkungan Keraton Kasunanan Surakarta.
Perjalanan payung menunjukkan bahwa sebuah benda sederhana dapat memiliki fungsi yang jauh lebih luas daripada sekadar pelindung tubuh. Dari peneduh pada peradaban kuno, simbol kedudukan, perlengkapan upacara kerajaan, hingga kerajinan masyarakat, payung berkembang menjadi bagian dari sejarah, seni, dan identitas budaya berbagai masyarakat. (Wiwik)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....