Gentle Parenting Diakui Sangat Berat Dilakukan, Mengapa?

  • 30 Agt 2026 12:55 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Istilah gentle parenting semakin sering terdengar, terutama di media sosial. Pola asuh ini menekankan empati, rasa hormat, komunikasi, serta hubungan yang kuat antara orang tua dan anak, tetapi menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari ternyata tidak selalu mudah.

Gentle parenting bukan berarti anak selalu dibiarkan melakukan apa saja atau orang tua tidak boleh mengatakan “tidak”. Menurut Chioma Fanawopo, parent and teen coach dalam parents.com, pendekatan ini tetap membutuhkan batasan, tetapi dilakukan dengan kesabaran dan ketegasan, bukan melalui rasa takut maupun hukuman.

Popularitas gentle parenting semakin meningkat setelah pandemi COVID-19, ketika banyak orang tua menghadapi tekanan dan mencari cara menghadapi berbagai persoalan pengasuhan. Pendekatan ini sejalan dengan penelitian mengenai perkembangan anak, keamanan emosional, keterikatan yang sehat, serta kemampuan mengelola emosi.

Namun, keinginan untuk menjadi orang tua yang selalu tenang justru dapat menjadi tantangan tersendiri. Artikel Parents.com yang ditulis Hannah Nwoko dan dipublikasikan 2 Desember 2024 menyebutkan, sebuah studi pada 2024 menemukan lebih dari sepertiga pengasuh yang mengidentifikasi diri sebagai gentle parents melaporkan ketidakpastian dalam mengasuh dan mengalami kelelahan karena merasa harus memenuhi standar tertentu.

Tantangannya bisa semakin besar ketika anak memiliki karakter yang kuat atau sangat sensitif. Kondisi orang tua juga berpengaruh, karena tekanan pekerjaan, persoalan ekonomi, kurangnya dukungan, hingga tingkat stres dapat membuat orang tua lebih sulit mengendalikan respons ketika menghadapi anak yang tantrum atau menolak aturan.

Pengalaman masa kecil orang tua juga tidak bisa dilepaskan. Orang tua yang dahulu dibesarkan dengan pola asuh keras atau sangat otoriter mungkin harus bekerja lebih keras untuk mengubah kebiasaan tersebut, terlebih jika sejak kecil mereka tidak pernah melihat contoh bagaimana meminta maaf atau berdiskusi dengan anak.

Tantangan menjadi semakin terasa ketika orang tua harus menghadapi situasi secara langsung, misalnya saat anak tantrum atau terus melanggar batasan. Dalam kondisi lelah dan emosi yang sudah tinggi, tetap tenang serta membantu anak mengatur emosinya tentu membutuhkan latihan.

Karena itu, gentle parenting bukan untuk menjadi orang tua sempurna setiap saat. Orang tua perlu membangun kesabaran, kemampuan beradaptasi, dan kesadaran diri agar anak tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, menghargai orang lain, serta mampu mengelola emosinya. (Hil)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....