Kenapa Sulit Move On dari Drama Korea yang Sudah Tamat?

  • 26 Agt 2026 03:48 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID Surakarta - Pernahkah kamu merasa kosong setelah menonton episode terakhir drama Korea favorit? Perasaan tersebut sebenarnya cukup wajar karena selama beberapa minggu atau bahkan berbulan-bulan, kita terbiasa mengikuti kehidupan tokoh dan konflik yang mereka alami. Drama Korea tidak hanya menyajikan cerita, tetapi juga menghadirkan karakter, hubungan, musik, dan suasana yang dapat membangun keterlibatan emosional penonton. Penelitian Universitas Gadjah Mada menunjukkan bahwa penonton drama Korea dapat memberikan pemaknaan yang berbeda terhadap karakter dan isu yang ditampilkan dalam cerita, sehingga pengalaman menonton tidak sekadar bersifat pasif. Karena itu, ketika cerita tiba-tiba berakhir, sebagian penonton dapat merasakan seolah-olah harus berpisah dengan dunia yang selama ini menemani keseharian mereka.

Salah satu alasan kita sulit move on adalah karena sudah terbentuk keterikatan emosional terhadap karakter. Kita mungkin ikut bahagia ketika tokoh utama mendapatkan apa yang diinginkan, marah ketika mereka diperlakukan tidak adil, atau menangis ketika mereka mengalami kehilangan. Penelitian UGM mengenai drama Our Beloved Summer menunjukkan bahwa berbagai emosi seperti kebahagiaan, kesedihan, kemarahan, rasa bersalah, dan cinta dapat muncul melalui perjalanan tokoh dalam cerita. Ketika penonton mengikuti emosi tersebut episode demi episode, karakter fiksi dapat terasa semakin dekat dan familiar. Akibatnya, tamatnya drama dapat terasa seperti berakhirnya sebuah hubungan emosional, meskipun kita sebenarnya tidak pernah mengenal karakter tersebut di dunia nyata.

Selain karakter, alur cerita juga membuat kita terus penasaran dan menunggu kelanjutan episode berikutnya. Setiap episode biasanya meninggalkan pertanyaan, konflik, atau harapan yang membuat penonton ingin segera mengetahui apa yang terjadi selanjutnya. Penelitian UGM tentang Doona! menunjukkan bahwa perkembangan plot drama dapat berjalan melalui tahapan pengenalan, konflik yang meningkat, klimaks, hingga penyelesaian, sekaligus memunculkan beragam emosi pada tokohnya. Ketika seluruh rangkaian tersebut akhirnya selesai, rutinitas menunggu episode baru pun ikut menghilang. Tidak mengherankan jika muncul perasaan kehilangan karena aktivitas yang sebelumnya menjadi bagian dari keseharian tiba-tiba tidak lagi memiliki kelanjutan.

Drama Korea juga sering menjadi tempat seseorang mencari hiburan atau mengambil jeda dari rutinitas sehari-hari. Setelah menjalani pekerjaan, kuliah, atau berbagai persoalan pribadi, menonton satu atau dua episode dapat menjadi waktu untuk bersantai dan menikmati cerita. Unit Konsultasi Psikologi UGM bahkan membahas kebiasaan menonton serial drama sebagai salah satu aktivitas yang dapat membuat seseorang menunda waktu tidur demi mendapatkan waktu pribadi. Ketika drama favorit selesai, waktu istirahat yang sebelumnya memiliki “teman” berupa episode baru mungkin terasa berbeda. Inilah sebabnya rasa kehilangan setelah tamat tidak selalu berarti kita terlalu berlebihan, melainkan bisa menunjukkan bahwa drama tersebut telah menjadi bagian dari rutinitas dan pengalaman emosional kita.

Namun, sulit move on juga dapat terjadi karena cerita tersebut meninggalkan sesuatu yang terasa personal bagi penontonnya. Ada drama yang mengingatkan kita pada pengalaman cinta, persahabatan, keluarga, kehilangan, perjuangan, atau fase tertentu dalam kehidupan. Penelitian UGM mengenai It’s Okay to Not Be Okay menemukan bahwa penonton dapat membangun pemaknaan terhadap isu kesehatan mental yang ditampilkan melalui karakter dan berbagai unsur cerita. Artinya, sebuah drama dapat menjadi lebih dari sekadar tontonan karena kita menemukan pengalaman atau perasaan yang terasa dekat dengan kehidupan sendiri. Ketika cerita berakhir, yang sebenarnya sulit dilepaskan mungkin bukan hanya tokohnya, tetapi juga perasaan dan kenangan yang muncul selama menontonnya.

Pada akhirnya, sulit move on dari drama Korea bukan sesuatu yang aneh selama tidak sampai mengganggu kehidupan sehari-hari. Kita boleh menikmati kembali soundtrack-nya, melihat cuplikan adegan favorit, membaca diskusi penggemar, atau menonton drama lain untuk mengisi kekosongan tersebut. Namun, penting juga menjaga keseimbangan karena menonton serial secara maraton dalam waktu lama dapat berdampak pada kesehatan apabila dilakukan berlebihan, termasuk mengganggu waktu istirahat. Kementerian Kesehatan RI mengingatkan bahwa kebiasaan menonton serial atau drakor secara maraton dalam waktu panjang perlu diperhatikan karena dapat membawa dampak kesehatan. Jadi, jika sebuah drama membuat kita sulit move on, mungkin itu justru tanda bahwa ceritanya berhasil menyentuh sesuatu dalam diri kita dan tidak apa-apa menikmati perasaan itu sebelum akhirnya berkata, “sampai jumpa di drama berikutnya.” (Rosita - LPU)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....