Dongeng Anak Dinilai Jadi Fondasi Pembentukan Karakter Bangsa di Era Digital

  • 24 Jul 2026 19:29 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Sastra anak dinilai memiliki peran penting dalam membentuk karakter generasi muda sejak usia dini. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital dan menurunnya minat baca anak, karya sastra yang sesuai dengan tahap perkembangan usia dinilai mampu menjadi media penanaman nilai-nilai moral, kejujuran, nasionalisme, hingga kepedulian sosial.

Dosen Program Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret (UNS), Dr. Riana, mengatakan sastra anak bukan sekadar cerita untuk hiburan, melainkan sarana pendidikan karakter. Menurutnya, cerita yang dikonsumsi anak harus disesuaikan dengan usia dan perkembangan psikologis agar nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dapat diterima dengan baik.

"Anak membutuhkan asupan nilai yang membentuk karakter mereka. Karena itu, cerita anak sangat berpengaruh dalam proses pembentukan karakter sejak dini," ujarnya dalam program Jagongan Pro 4 RRI Surakarta, Jumat 17 Juli 2026.

Ia menjelaskan, sastra anak mencakup berbagai bentuk karya, mulai dari cerita pendek, dongeng, fabel, hingga kisah nonfiksi yang mengangkat pengalaman sehari-hari. Seiring perkembangan teknologi, sastra anak juga berkembang ke media audiovisual melalui film maupun animasi yang lebih menarik bagi anak-anak tanpa menghilangkan pesan moral yang ingin disampaikan.

Menurut Riana, kualitas cerita yang diberikan kepada anak akan memengaruhi cara mereka memandang kehidupan. Ia mencontohkan bahwa tokoh-tokoh dalam cerita kerap menjadi panutan sehingga nilai kejujuran, tanggung jawab, maupun semangat mencintai tanah air perlu dihadirkan melalui karakter yang positif. Sebaliknya, cerita yang kurang tepat juga dapat membentuk cara pandang yang keliru apabila tidak disertai pendampingan dari orang tua maupun guru.

Riana juga menyoroti pentingnya keterlibatan sekolah dalam mengembangkan literasi sastra anak. Selain membiasakan kegiatan membaca, sekolah diharapkan memberi ruang bagi anak untuk menjadi penulis melalui kegiatan ekstrakurikuler maupun proyek penerbitan buku. Menurutnya, banyak anak memiliki potensi menulis, tetapi belum memperoleh pendampingan dan wadah untuk mengembangkan karya mereka.

Mahasiswa Sastra Indonesia yang turut hadir dalam dialog tersebut juga menilai sastra anak tidak hanya berfungsi sebagai media pendidikan, tetapi juga memberi ruang bagi anak untuk berimajinasi, berekspresi, dan menikmati pengalaman membaca. Cerita yang menarik dinilai mampu menumbuhkan kecintaan terhadap literasi sekaligus mengembangkan kemampuan berpikir kreatif dan kritis pada anak.

"Anak-anak belajar dari apa yang mereka lihat, dengar, dan alami. Karena itu, mari menjadi teladan yang baik agar mereka tumbuh menjadi generasi yang berakhlak mulia dan memberi manfaat bagi bangsa," katanya. Menutup dialog, Riana berharap seluruh elemen masyarakat dapat berperan dalam membangun karakter anak, tidak hanya melalui buku, tetapi juga melalui keteladanan dalam kehidupan sehari-hari. (Hil)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....