Cerita Lila, Cerita yang Tidak Ceria

  • 30 Jun 2026 22:45 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, SurakartaIndustri perfilman horor Indonesia kembali dihangatkan dengan kehadiran karya terbaru sutradara kondang Bobby Prasetyo yang bertajuk 'Cerita Lila'. Film ini diangkat berdasarkan hasil kisah penelusuran supranatural dari Sara Wijayanto yang sudah sangat dikenal luas oleh masyarakat pencinta cerita mistis. Penayangan perdana sinema layar lebar yang menegangkan ini dijadwalkan secara resmi mulai Selasa, 18 Juni 2026 di seluruh jaringan bioskop tanah air.

Poster resmi film tersebut menampilkan visualisasi mencekam yang memperlihatkan sesosok wanita berambut panjang terurai dalam balutan gaun putih kusam di sebuah kamar tidur tua. Karakter misterius tersebut tampak berdiri kokoh memegang bantal di antara dua buah ranjang yang ditempati oleh anak-anak yang sedang tertidur lelap. Atmosfer ruangan bernuansa hijau gelap di dalam poster tersebut berhasil membangun impresi awal mengenai kentalnya unsur teror psikologis yang ditawarkan.

Dari segi jajaran pemain, film ini mempertemukan dua aktris berbakat spesialis genre horor tanah air yaitu Lutesha dan Shareefa Daanish yang performanya tidak perlu diragukan lagi. Kombinasi akting keduanya dinilai sangat solid dalam mengeksplorasi rasa ketakutan serta keputusasaan yang menjadi motor utama penggerak alur cerita. Penonton akan dibawa masuk secara perlahan ke dalam misteri masa lalu yang kelam lewat konflik emosional yang dibangun di antara para karakter utama.

Seorang pengamat film asal Kota Surakarta, Hermawan memberikan apresiasi tinggi terhadap pendekatan visual dan sinematografi dari karya terbaru Bobby Prasetyo ini, saat ditemui pada Selasa, 30 Juni 2026 di Cinema XXI Mall Solo Paragon. Menurutnya, penggunaan pencahayaan yang minim serta penataan set kamar tidur bergaya klasik mampu menghadirkan rasa tidak nyaman yang konstan bagi audiens sepanjang durasi film. Ketegangan yang disajikan tidak hanya mengandalkan teknik kejutan audio semata melainkan kekuatan atmosfer lingkungan sekitar.

Di sisi lain, narasi yang dibangun berdasarkan penelusuran nyata Sara Wijayanto memberikan dimensi kekosongan mistis yang terasa lebih dekat dengan kepercayaan lokal masyarakat. Cerita yang berfokus pada sosok 'Lila' ini berhasil mengeksplorasi mitos urban secara mendalam tanpa harus terjebak pada klise horor konvensional yang membosankan. Hal tersebut membuat jalinan skenario terasa lebih berbobot serta mampu memicu diskusi menarik di kalangan penonton setelah keluar dari ruang bioskop.

Keseimbangan informasi dalam ulasan ini tetap terjaga dengan adanya catatan evaluasi dari beberapa kritikus mengenai ritme penceritaan di pertengahan durasi film yang dirasa sedikit melambat. Walaupun demikian, penurunan tempo tersebut tampaknya sengaja dilakukan oleh sutradara demi memberikan ruang bagi pengembangan latar belakang karakter yang lebih utuh. Penataan ritme yang dinamis ini pada akhirnya membantu memberikan dampak ledakan emosi yang maksimal pada bagian penyelesaian cerita.

Secara keseluruhan, Cerita Lila sangat direkomendasikan bagi para pencinta sinema horor yang mendambakan tontonan berkualitas dengan narasi yang kuat dan jajaran cast yang mumpuni. Film ini tidak sekadar menjual visual hantu yang menyeramkan, melainkan sebuah presentasi sinematik yang menyentuh sisi psikologis terdalam manusia. Segera saksikan keseruan petualangan mistis ini bersama kerabat terdekat di bioskop kesayangan Anda sebelum masa tayangnya berakhir. (Rifqi Nadhif)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....