Teater Tari Ibu Menggendong Batu Pertunjukan Sarat Makna Emosional Sosok Ibu
- 24 Apr 2026 19:49 WIB
- Surakarta
Poin Utama
- Teater tari bertajuk Ibu Menggendong Batu digelar di Teater Arena , Taman Budaya Jawa Tengah di Surakarta Kamis 23 April 2026
RRI.CO.ID, Surakarta - Di bawah temaram lampu Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), sebuah fragmen kehidupan yang menyesakkan dada tersaji dengan begitu estetis pada Kamis malam, 23 April 2026. Pertunjukan teater tari bertajuk "Ibu Menggendong Batu" hadir bukan sekadar sebagai tontonan, melainkan sebuah refleksi tajam tentang cinta yang dikhianati dan beban yang membeku.
Karya ini merupakan hasil racikan tangan dingin sutradara kawakan dari kelompok Teater Gidag Gidig, Hanindawan. Ia berhasil memadukan narasi sastra, dongeng rakyat, dan ekspresi tubuh ke dalam satu napas pertunjukan yang magis sekaligus menyentuh.
Inspirasi karya ini berangkat dari eksplorasi mendalam terhadap dongeng-dongeng rakyat tentang batu dan cerpen karya sastrawan Danarto. Namun, di tangan Hanindawan, batu tidak lagi menjadi benda mati yang dingin.
"Saya mengumpamakan batu sebagai beban berat sosok ibu yang dikhianati anak, atau fenomena anak-anak saat ini yang seringkali berani kepada ibunya," ujar Hanindawan di sela pertunjukan.
Bagi sang sutradara, batu adalah simbol dari beban kehidupan yang dipikul tanpa mengeluh. Luka batin yang tak terucap. Perasaan yang membeku akibat pengkhianatan darah daging sendiri.
Pertunjukan ini menyoroti potret miris seorang anak yang dibesarkan dengan penuh peluh, namun tumbuh menjadi pribadi yang tamak dan lupa akan asal-usulnya. Dalam narasi ini, bukan sang anak yang berubah menjadi batu seperti legenda Malin Kundang, melainkan "hati" sang anaklah yang telah membatu.
Konflik emosional ini digambarkan secara apik melalui konsep teater tutur tari. Para penari tidak hanya mengandalkan kelenturan fisik, tetapi juga menjadi narator yang membawa emosi penonton masuk ke dalam pergulatan batin sang ibu.
Secara kritis, pertunjukan ini juga membedah bagaimana tokoh perempuan dalam dongeng tradisional sering kali menjadi korban konflik personal yang berakhir pada penderitaan yang membisu. Transformasi tubuh menjadi batu diinterpretasikan sebagai suara-suara perempuan yang terbungkam oleh sejarah dan tradisi.
Fitriatrisna, salah satu penari yang terlibat, mengungkapkan kekagumannya terhadap proses kreatif ini. Ia merasa kepekaan sutradara dalam membedah konsep membuat pertunjukan ini terasa sangat personal bagi para pelakunya.
"Pak Hanindawan sangat peka dan jeli mendudah konsepnya, saya suka sekali," ucapnya usai pementasan.
"Ibu Menggendong Batu" bukan sekadar rekonstruksi dongeng lama. Ia adalah bentuk kritik sosial yang dibungkus dengan keindahan artistik. Melalui gerak dan teks, karya ini menjadi pengingat bagi siapa saja yang menonton: bahwa di balik ketangguhan seorang ibu, sering kali ada beban seberat batu yang ia gendong sendirian dalam diam.
Sebuah sajian yang segar, mendalam, dan berhasil membuka ruang dialog baru antara warisan tradisi dengan realitas sosial masa kini. Ita/MI
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....