Museum Tumurun Surakarta: Jejak Seni 'Turun Temurun'

  • 13 Apr 2026 13:48 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Di tengah hiruk-pikuk Kota Surakarta, berdiri sebuah ruang penuh inspirasi yang jauh dari sekadar museum biasa, Tumurun Museum, atau sering disebut Tumurun Private Museum.

Museum ini merupakan salah satu pusat seni modern dan kontemporer yang semakin dikenal di Indonesia, khususnya di kalangan penikmat seni kontemporer dan pengunjung wisata kreatif. Nama Tumurun berasal dari kata Jawa turun temurun, yang bermakna warisan yang dipegang dan diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Filosofi ini menjadi kunci pemaknaan museum: seni sebagai warisan tak ternilai yang tak hanya dilihat, tetapi juga dirasakan, dipelajari, dan dihidupi. Berdasarkan website Museum Tumurun https://www.tumurunmuseum.org/id, Museum ini pertama kali dibuka pada April 2018 dan merupakan museum pribadi milik keluarga Lukminto, pendiri perusahaan tekstil besar Asia, Sritex.

Museum ini dibuat bukan sekadar ruang pajang, tetapi sebagai wadah dialog antar waktu, generasi, serta budaya melalui seni. Berbeda dari museum klasik yang memamerkan artefak sejarah, Museum Tumurun didedikasikan untuk karya seni modern dan kontemporer, baik dari pelukis Indonesia maupun seniman internasional. Koleksi ini mencakup:

Lukisan dan instalasi karya maestro seni Indonesia seperti Affandi, S. Sudjojono, Hendra Gunawan, dan Basuki Abdullah. Karya kontemporer yang segar dan autentik, termasuk karya Wedhar Riyadi, seperti instalasi ikon Floating Eyes yang sering menjadi favorit pengunjung. Ada juga koleksi yang berasal dari seniman muda dan global sebagai bagian dari pameran periodik.

Lukisan karya seniman Indonesia yang terkenal menjadi daya pikat utama museum ini (Foto : RRI/Rosita)

Setiap tahunnya, museum ini memfasilitasi dua pameran khusus yang diadakan secara bergantian, serta kegiatan kuratorial yang mendukung dialog seni lintas generasi dan budaya. Museum Tumurun bukan sekadar tempat melihat lukisan — pengalaman di dalamnya unik dan mendalam dan menawarkan pengalaman menjelajah seni yang berbeda

Instruksi pengunjung dan pemanduan tersedia untuk membantu memahami karya secara lebih kontekstual. Ruang pamerannya lebih mirip galeri seni kelas dunia, tetapi tetap mudah diakses oleh semua kalangan. Ditambah spot foto yang menarik menjadi bonus visual bagi pengunjung yang ingin mengabadikan kunjungannya.

Museum Tumurun sendiri berlokasi di Jalan Kebangkitan Nasional No. 2/4, Sriwedari, Laweyan, Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia. Adapun jam operasional Museum ini pada hari Selasa–Minggu, 10.00–16.00 WIB (tutup setiap Senin).

Pengunjung dapat membeli tiket secara daring atau melalui loket. Tiket gratis dengan kuota terbatas tersedia jika registrasi lebih awal melalui situs resmi museum.

Museum ini menjadi representasi nyata dari konsep seni sebagai warisan: bukan hanya untuk dinikmati, tetapi untuk dipahami dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Ruang seni ini juga memperkaya pengalaman wisata kota Solo yang selama ini identik dengan warisan tradisional seperti keraton dan batik, dengan warna seni kontemporer yang kuat.

Jika kamu penggemar seni, pelajar seni, atau hanya sekedar mencari pengalaman budaya yang berbeda saat berkunjung ke Solo, Museum Tumurun merupakan tempat yang tak boleh dilewatkan. Seni modern dan kontemporer yang dipamerkan mampu membuka wawasan baru tentang bagaimana seni hadir sebagai bagian penting dari narasi budaya Indonesia masa kini. (Rosita-LPU)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....