Peringati Hari Wayang-Pahlawan, Seniman Wayangan di Omah Londo Gondang

  • 23 Nov 2025 09:51 WIB
  •  Surakarta

KBRN,Sragen: Seniman Kabupaten Sragen yang tergabung dalam Paguyuban Padmorogo menggelar pertunjukan wayang kulit dengan 21 dalang. Pagelaran wayang kulit ini selain untuk memperingati Hari Wayang juga untuk memperingati Hari Pahlawan Nasional.

Pagelaran wayang kulit berlangsung di kawasan Omah Londo Kecamatan Gondang, Sabtu (22/11/2025). Kegiatan ini dihadiri mantan Bupati Sragen Untung Wiyono.

"Kami bersama Paguyuban Padmorogo di sini konsepnya melestarikan budaya, nguri-nguri, ngurut dan ngrangkul seniman untuk berkarya. Intinya mengembangkan seni yang ada di Gondang Sragen," ucap Agung Mangku Darsono di sela acara.

Dalam pagelaran ini pihaknya menghadirkan 21 dalang dan melibatkan belasan pengrawit serta pesinden. Sebanyak 21 dalang itu semuanya tampil secara bergantian.

"Ini ada 21 dalang. Kebetulan yang satu daftar terakhir sehingga tidak masuk rundown tapi tetap tampil. Kalau penabuh dan sinden 16 orang," ucap dia.

Pagelaran wayang kulit dalam rangka Hari Wayang Nasional 7 November itu memang rutin diselenggarakan di Kabupaten Sragen. Namun untuk di Kecamatan Gondang ini baru pertama kali.

"Alhamdulillah di Gondang ini baru perdana. Semoga semakin baik, nguri-uri budaya khususnya wayang kulit. Ini lakon Sumeni, kebetulan bersamaan dengan Hari Pahlawan, kita ingin tokoh ini (Sumeni pejuang perempuan yang lahir di Sragen) menjadi pahlawan wanita," kata Agung.

Agung mengatakan, regenerasi dalang di Kabupaten Sragen cukup baik. Khususnya di Gondang bahkan banyak dalang bocah, yang membutuhkan support dan panggung untuk pertunjukan.

"Regenerasi di Gondang, dalang bocah dan remaja itu banyak. Kita pingin regenerasi pengurus di bidang seni pedalangan intinya bisa lestari di kabupaten Sragen," kata dia.

Upaya pelestarian budaya dan seni wayang kulit diakui Agung menuai tantangan serius di era digital. Tidak hanya masifnya penggunaan gawai pada anak-anak, namun dari segi bahasa.

"Anak milenial ini tentunya banyak media gadget dan hiburan yang lain. Wayang di sini Bahasa Jawa dan kromo inggil, sedangkan di daerah kita anak kecil sudah berbahasa Indonesia sehingga kesulitan untuk mengerti wayang," katanya membeberkan.

Pada kesempatan sama mantan Bupati Untung Wiyono mengakui dirinya sangat menyukai wayang. Mantan bupati dua periode itu, mengaku dirinya dibesarkan dan dibranding dari wayang. Filosofi wayang itu menurutnya gambar perjalanan hidup manusia.

"Bahkan lakon wayang itu sing ono becik lan olo. Nek kepingin dadi satrio ya dadio Pandowo, nek pingin dadi wong srei dengki ya dadio Kurawa. (Lakon wayang itu ya bagus dan jelek. Kalau mau jadi kesatria ya tirulah watak Pandawa, kalau mau jadi orang jelek tirulah Kurawa). Maka tinggal pilih saja," katanya menandaskan. MI

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....