Rahasia Ajaran Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu
- 07 Des 2024 05:25 WIB
- Surakarta
KBRN, Surakarta: Pro4 RRI Surakarta menyelenggarakan Siaran Dialog Jagongan pada 6 Desember 2024 dengan tema ‘Rahasia Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu’. JAGONGAN ini menghadirkan narasumber, Guru Besar FIB UNS, Prof. Dr. Bani Sudardi M.Hum.
“Dalam kajian filologi, ajaran tentang Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu, dalam pustaka-pustaka atau naskah-naskah yang lama itu ternyata tidak ditemukan. Ditemukannya, tentang cerita perkawinan Sukesi dengan Begawan Wisrawa, tetapi ceritanya itu dengan banyak versi”, kata Prof Bani, Jumat (6/12/2024).
Lanjutnya, versi yang muncul dalam pedalangan yaitu permintaan Sukesi untuk dijelaskan tentang Sastra Jendra Hayuningrat sebagai syarat untuk menikahi Sukesi. Namun tidak ada yang bisa menjelaskan tentang Sastra Jendra Hayuningrat.
Prof Bani menceriakan, ajaran Pangruwating Diyu diajarkan, berkat terjadinya kesalah pahaman."Prabu Sumali dan Sukesi ketika melihat Resi Wisrawa dalam cerita itu merasa tertarik. Sukesi tertarik pada Resi Wisrawa karena Wisrawa golongan manusia biasa (bukan bangsa raksasa), sakti, bagus, dan berpengetahuan yang tinggi. Hingga akhirnya mereka dinikahkan untuk menghentikan keturunan Diyu. Hal ini merupakan upaya untuk 'meruwat' wujud raksasa menjadi manusia biasa, melalui perkawinan" ucapnya
“Dampak dari pernikahan itu melahirkan empat anak, yaitu Dasamuka, Kumbakarna, Sarpakenaka, dan Wibisana, dan hanya anak yang terakhir yang berwujud manusia”, ujar Prof. Bani.
Lanjutnya, ajaran tentang Sastra Jandra itu belum ada dalam sastra kuno. “Saya menemukan ajaran pada zaman Surakarta, yaitu ajaran Angabehi pada tahun 1900. Artinya, ajaran tersebut masih muda sekali jika dibandingkan dengan ajaran zaman abad sembilan” ucapnya
Isi tentang ajaran Sastra Jendra disebut dengan ajaran Sastra Cetha atau ajaran yang tidak boleh dituliskan, karena sudah cetha atau jelas. Didalam ajaran Sastra Jandra juga disebutkan ada ajaran Ngilmu Rasa yang menggambarkan 'asal-usule dumadi' atau 'asal-usule manungsa'.
Ilmu rasa membina kesadaran manusia agar mempertimbangkan rasa dalam setiap langkah atau aktivitas. Rasa tidak dituliskan, tetapi cukup dirasakan dengan hati.
Sastra Jendra juga menyadarkan manusia bahwa ada hal-hal yang diluar batas kemampuan nalar manusia, tetapi nyata ada, tidak semuanya mampu memahami" Daam hidup kita merasa menjadi makhluk kecil tidak bisa menjelaskan semuanya. Sastra Jandra mengingatkan kita dalam keterbatasan kita semua sebagai manusia sehingga hidup harus hati-hati, waspada, dan selalu arif serta bijaksana" ungkap Prof Bani. (Ali Marsudi)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....