Dewa Ruci, Lakon Wayang Gambaran Kehidupan Mencapai Kesempurnaan
- 25 Nov 2024 16:42 WIB
- Surakarta
KBRN, Surakarta: Ada beberapa penggambaran yang tertaut pada cerita-cerita wayang. Gambaran tersebut tertera dalam lakon- lakon yang disajikan, diantaranya : wayang sebagai cerminan hidup, wayang sebagai simbol makluk Tuhan, wayang sebagai penggambaran seisi dunia dan wayang sebagai simbol kehidupan manusia.
Dalam cerita budaya wayang juga mengandung nilai-nilai simbolik seperti: etika, budaya mistikisme, religiusme, kebangsaan dan pedoman kehidupan. Menurut Sri Teddy Rusdy, Ketua Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia, kata Wayang berasal dari Bahasa Jawa kuno yang berati ‘wewayang/bayang – bayang, bisa juga diambil dari ‘wewayanganing agesang’ atau gambaran kehidupan.
Wayang juga berasal dari kata Ma Hyang yang berarti menuju kepada roh spiritual, Dewa atau Tuhan Yang Maha Esa. Wayang kulit adalah Walulang Inukir (kulit diukir) dan dilihat bayangannya dari kelir. Wayang cerminan hidup, menggambarkan perjalanan manusia dari lahir hingga meninggal.
Wayang sebagai simbol isi alam semesta, yang terdiri dari berbagai karakter seperti manusia, binatang, tumbuhan, dewa dan raksasa. Wayang sebagai simbol kehidupan manusia tertera pada fisik bentuk kayon atau gunungan dengan bentuk mengerucut ke atas. Artinya segala kehidupan tertuju pada satu tujuan yaitu manembah kepada yang Maha Esa.
Lakon Dewa Ruci merupakan cerita asli Jawa yang nganggit zaman wali songo. Lakon ini merupakan gambaran ‘Manunggaling Kawula Gusti’ yang berarti bersatunya manusia dengan Tuhan. Inti cerita Dewa Ruci tersebut yaitu Kurawa yang berjumlah 100 dari negeri Astina iri dengan keberuntungan para Pandawa. Dengan segala cara Kurawa ingin menjerumuskan Pandawa di negeri Amarta ke dalam kesengsaraan.
Mereka memanfaatkan pandita Durna, yang merupakan dwija atau guru Pandawa dan Kurawa untuk menyuruh Bratasena sang panenggak Pandawa yang sangat menginginkan ajaran ilmu kesempurnaan hidup atau sangkan paraning dumadi. Dengan sarana, Bratasena atau Bima harus mengikuti dan mematuhi perintah guru Durna untuk mencari ‘Kayu Gung Susuhing Angin, ke hutan Tikbra Sara di lereng Gunung Reksamuka.
Makna dalam nama Kayu Gung Susuhing Angin : kayu berasal dari kata kayun yang berarti karep atau keinginan. Gung yang berarti besar, susuh berarti tempat dan angin yang berarti nafas. Kayu gung susuhing angin adalah sebuah keinginan yang besar untuk mencapai sebuah tujuan yang besar.
Sedangkan tikbra artinya rasa prihatin, sara berarti pisau tajam, ini melambangkan kepandaian. Reksa artinya merawat, muka adalah wajah, Reksamuka artinya memelihara raga dan jiwa dengan jalan meditasi.
Setelah berhasil kembalilah Bima ke Astina menghadap resi Durna. Gurunya mengatakan bahwa sebenarnya hanya diuji untuk yang pertama. Sedangkan permintaan Durna yang kedua untuk mengetahui Sangkan Paraning Dumadi atau asal mula kehidupan manusia diharuskan Mencari Tirta Pawitrodi Mahening Suci, yang ada di tengah dasar samudera.
Berbekal tekad yang bulat maka berangkatlah sang Bima. Dengan segala rintangan maka berhasil ke dalam samudra dan bertemu dengan sang jati diri yaitu Dewa Ruci . Di tempat itu Bratasena mendapat pencerahan kehidupan.
Kisah Dewa Ruci memuat filosofi mistik Jawa, yaitu pemahaman bahwa manusia harus sampai kepada asal dan tujuan hidupnya apabila ia ingin mencapai kesempurnaan. Atau mengetahui tentang jati diri pribadi batin manusia itu sendiri.
Hal tersebut dilambangkan oleh kehadiran Dewa Ruci. Ketika Bima mampu memasuki ruang batinnya yang terdalam, Tubuh Dewa Ruci yang kecil tersimpan seluruh alam jagad raya.
Persatuan dengan Dewa Ruci membuat Bima memperoleh kesempurnaan hingga ia menjadi orang yang tak terkalahkan. Orang Jawa percaya bahwa Tuhan adalah pusat alam semesta dan pusat segala kehidupan.
Oleh karena itu, pandangan orang Jawa yang demikian disebut manunggaling kawula lan Gusti. Yaitu pandangan yang beranggapan bahwa kewajiban moral manusia adalah mencapai harmoni dengan kekuatan terakhir dan pada kesatuan terakhir. Manusia menyerahkan diri secara total selaku kawula atau hamba terhadap Sang Pencipta.
Ciri pandangan hidup orang Jawa adalah realitas yang mengarah kepada pembentukan kesatuan antara alam, masyarakat, dan alam adikodrati yang dianggap suci. (Tikno, Ali Marsudi)
Sumber :
#wikipedia
#jurnal Pascasarjana Sosiologi Universitas Brawijaya Malang
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....