Tari Ebeg Seni Rakyat Banyumas Unik Energik

  • 28 Okt 2024 13:22 WIB
  •  Surakarta

KBRN, Surakarta: Salah satu kesenian tradisional kerakyatan dari Banyumas adalah Tari Ebeg. Seni Ebeg menampilkan sekelompok penari berkuda yang menjadikannya unik dan energik. Kuda yang digunakan bukan kuda sebenarnya, tapi properti kuda-kudaan dari anyaman bambu.

Di dalam pertunjukan Ebeg menghadirkan tari Barongan, yaitu tarian dari sosok binatang imajiner berkepala mirip seekor singa terbuat dari kayu. Mulut Barongan yang lebar dapat membuka dan menutup serasa benar-benar hidup. Apabila mulut barongan mengatup berbunyi keras bagaikan ledakan. Hal tersebut yang sering kali membuat anak kecil merasa ketakutan. Sekelompok penari ebeg biasanya berjumlah genap, Misalnya 4 pasang, 6 pasang, 8 pasang atau lebih, menyesuaikan ketersediaan penari maupun kebutuhan pergelaran.

"Ebeg di Banyumas termasuk rumpun seni tari rakyat layaknya Kuda Kepang, Jaran Dor, Kuda Lumping, dan Jathilan. Pengaruh genius local masyarakat Banyumas menjadikan Ebeg memiliki ciri khas sajian. Ciri khas ini yang menjadi pembeda terhadap bentuk kesenian serupa" ucap Sigit Purwanto S.Sn., M.Sn , Seniman tradisional

Karakter menyeramkan dari Barongan akan segera terobati ketika melihat penampilan dua penari geculan (jenaka). Dua Penari ini mengenakan topeng kayu yang lucu. Topeng berwarna putih disebut Penthul sedangkan yang hitam Cepet atau disebut Tembem. Gerak tarian Penthul dan Tembem terasa lebih spontan dan berusaha memancing tawa yang melihat.

Sebagai kelengkapan pertunjukan biasanya tampil Laisan. Laisan adalah tarian seorang putri, tetapi disajikan oleh lelaki. Ia berdandan dan bergerak seperti wanita. Meyakinkan penonton jika yang menari Lasian bukanlah pria.

Di puncak pertunjukan para penari Ebeg menjadi trans. Orang Banyumas menyebut kondisi ini sebagai 'mendem'. Ketika mendem mereka seakan tidak kontrol, seperti kerasukan roh atau indang.

Penari yang sudah mendem melakukan gerakan akrobat. Penonton sering dibuat ngeri ketika mendadak pemain memanjat tiang bambu yang tinggi, memakan bara api, memakan ayam hidup-hidup, menelan kaca, mengupas sabut kelapa dengan gigi, dan memecah batok kelapa dengan kepalanya.

Penari Ebeg menari bersamaan dengan alunan gending-gending Gaya Banyumas. Gending-gending khas seperti Eling-Eling, Thole-Thole, Renggong Lor, Blendrong Kulon, Ricik-Ricik, dan Tlutur Guritan, begitu rancak dimainkan oleh penayagan (pengrawit) dengan gamelan slendro.

(Sutikno, Ali Marsudi )


#Jurnal Entomusikologi ISI ska

#Narasumber Dosen Etnomusikologi

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....