Makna Dibalik Pitutur Luhur 'Gething Nyandhing', Fakta atau Mitos ?

  • 23 Okt 2024 22:35 WIB
  •  Surakarta

KBRN, Surakarta : Budaya Jawa kaya akan pitutur luhur yang adiluhung lestari hingga sekarang. Salah satunya pitutur luhur Gething Nyandhing yang hingga saat ini pemahamannya masih menjadi kontroversi antara fakta atau mitos ?


Hal tersebut terungkap pada acara Wedangan ( Ngawe Kadang sinambi Jagongan ) yang disiarkan Pro 4 RRI Surakarta setiap hari, pukul 20.00 hingga 21.00 WIB, mengulas pitutur luhur tersebut. Tidak sedikit masyarakat Jawa yang mengakui pitutur ini terjadi dalam kehidupannya.


"Dimasa muda saya pernah benci dengan anak temen ibu, saking bencinya pernah membuatkan minuman teh tanpa gula, kemudian seiring perjalanan waktu akhirnya kami malah bersanding/ menikah serta mempunyai 4 orang anak dan bahagia hingga sekarang" kata Hayu salah seorang pendengar Pro 4 RRI Surakarta.


Lain hal dengan Retno yang turut menelpon dan memberikan pendapat dengan bercerita pengalamannya. "Dimasa muda saya pernah membenci seorang pria namun saya sudah paham dengan pitutur luhur tersebut, saya patahkan bahwa tidak selamanya gething itu nyandhing, dan itu terbukti" ucap Retno


Sementara itu Menurut Prof. Gunawan Sumodiningrat dalam Bukunya Pitutur Luhur Budaya Jawa, disampaikan Gething artinya membenci, sanding artinya bersanding. Secara umum gething nyandhing artinya siapa yang semula membenci, sekarang menjadi akrab bahkan menikah.


Ini sangat umum terjadi. Orang yang terlalu membenci umumnya juga selalu ingin mencari tahu apa saja yang sedang dilakukan oleh orang yang dibencinya. Tak heran ini membuatnya menjadi lebih banyak tahu tentang orang tersebut. Pada akhirnya menjadi senang, bahkan menikah.


Tepatlah nasihat yang mengatakan, 'Bencilah musuhmu sekedarnya saja, boleh jadi nanti ia akan menjadi orang yang sangat kamu cintai'. Sebaliknya 'Cintailah kekasihmu sekedarnya saja, boleh jadi nanti ia akan menjadi orang yang sangat kamu benci'. Di dunia ini tidak ada yang langgeng. Segala sesuatu yang berlebihan atau kebangeten pasti tidak baik adanya. Wajar-wajar sajalah dalam menyikapi segala sesuatu, termasuk bila membenci orang. Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan, karena itulah "sempurnanya" manusia. (Dedi Setiadi/Penyiar)


Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....