Sindhen, Bagian Penting Dalam Karawitan Jawa

  • 16 Okt 2024 05:09 WIB
  •  Surakarta

KBRN, Surakarta: Seorang Empu Karawitan dan Dosen senior Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, KRAT Witoratdyo memberikan wawasan mengenai fungsi sinden dan istilah terkait dalam dunia karawitan Jawa. Sinden memiliki peran penting dalam mengiringi permainan gamelan, meski fungsi dan maknanya tidak selalu utama dan bisa hadir secara fleksibel dalam suatu pagelaran.

“Menurut buku Tembang, karya almarhum Raden Lurah Martobungrawit, sinden merujuk pada seorang vokalis wanita yang menyertai alunan musik gamelan. Secara etimologis, kata "sinden" berasal dari 'sendhon' , yang berarti tidak pokok, menunjukkan bahwa sinden tidak harus hadir secara terus-menerus dalam suatu gending dan dapat masuk sewaktu-waktu untuk memperkaya komposisi musik” ujar Witoratdyo, dalam program Jagongan Pro4 RRI Surakarta, Selasa (15/10/2024).

Witoratdyo menjelaskan bahwa sinden tidak berfungsi seperti penyanyi dalam pertunjukan musik modern. Mereka seringkali mulai menyanyikan bagian vokal di tengah-tengah gending, menambah nuansa estetika pada alunan gamelan.

"Peran ini berbeda dari penyanyi konvensional yang biasanya memimpin atau mendominasi suatu pertunjukan" ucapnya

Salah satu fenomena penampilan sinden dalam Karawitan Pedalangan, bukan hanya satu atau dua orang, namun berjumlah banyak, kadang hingga belasan bahkan lebih (Foto Screenshot dari akun Halo Ciamis)

Selain istilah 'sinden', ada juga istilah 'waranggana'. Waranggana merujuk pada wanita yang melakukan vokal untuk mengiringi gending. Dalam konteks mitologi, Waranggana adalah seorang bidadari yang mengiringi gamelan Lokananta pada masa Kaendran. Ini mengacu pada cerita dari almarhum Empu Karawitan Surakarta, Bapak Raden Tumenggung Warso Diningrat.

"Dalam konteks ini, Waranggana berarti wanita pilihan yang memiliki tugas untuk melakukan vokal pengiring dalam karawitan. Istilah ini berasal dari kata 'sworo' (suara) dan 'rengganana'. Selain menyinden, beberapa bidadari dalam cerita mitologi Jawa juga melakukan, 'Hambedhaya' yang berarti menari" ujar Witoratdyo

Dalam mitos tersebut, bidadari yang menari disebut 'lenggat bawa', sementara yang menyinden disebut waranggono. Gamelan yang mengiringi mereka disebut gamelan Lokananta, yang menurut kepercayaan Jawa, Lokananta merujuk pada jagat dunia.

"Instrumen gamelan Lokananta yang digunakan untuk mengiringi termasuk gending, kendang, gong, dan kenong (disebut sauran dalam istilah setempat). Keseluruhan ansambel ini memperkaya harmoni musikal dalam upacara maupun pertunjukan karawitan. Hal ini memperlihatkan betapa pentingnya peran sinden dalam tradisi musik Jawa" katanya.


(Dila, Malika, Ali Marsudi)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....