The Genk Tanggalkan Nama “Klithih”, Rilis Album “Glory Time”
- 01 Sep 2024 00:48 WIB
- Surakarta
KBRN, Surakarta: The Genk, band asal Jogja, beberapa waktu lalu telah menanggalkan nama “Klithih” sebagai nama belakangnya. Band tersebut masih mengusung gaya yang musik yang sama, yaitu “Pantura Streetpunk” hingga sekarang.
The Genk tetap produktif berkarya dan terus menyuarakan kegelisahan hati terhadap isu sosial. Utamnya yang terjadi di sekelilingnya dengan lagu gubahan mereka.
“Kami telah merilis album perdana berjudul “Glory Time” dan sudah tersedia di semua gerai music digital sejak tanggal 8 Agustus 2024,” ucap The Genk dalam press releasenya yang dikirim ke RRI Pro2 Solo (105,5 FM).
Pengalaman The Genk selama manggung di berbagai tempat terbayarkan dengan ciri music yang lebih matang dan mantab dalam penguasaan sound. Kualitas rekamannya pun apik.
Dalam album “Glory Time” tersebut, The Genk menawarkan 7 lagunya yang khas, yaitu “Hidup Ini”, “Kaum Pekerja”, “Jogjakarta”, “Glory Time”, “Burning On”, “Kotaku”, serta “Memori”.
Dalam album tersebut, The Genk memperkenalkan lagi darimana mereka berasal, serta menggambarkan transformasi kota kelahiran yang kini penuh sesak oleh masalah sosial.
“Lagu "Kotaku" itu sarat rasa geram, mengingatkan pada lagu-lagu Rancid saat Matt Freeman pada posisi vokal. Sedangkan, "Kaum Pekerja" adalah lagu identitas, lagu kebersamaan, kesamaan nasib warga Jogja yang kini mesti bekerja lebih awal, karena persaingan makin brutal, tidak ada waktu untuk pilih-pilih dan mengeluh,” ucap The Genk.
Album The Genk memang sarat dengan permasalahan sosial yang terjadi. Lagu “Hidup Ini”, misalnya, mengajak untuk lebih positif menyikapi masalah hidup yang gitu-gitu aja. Mensyukuri hal-hal kecil yang membahagiakan, misalnya dapat traktiran es teh jumbo saat panas terik dan sedang jaga parkitan, dan lain-lain. Di lagu lainnya, The Genk menawarkan "Glory Time”, lagu lama yang sudah akrab ternyata direkam ulang, versi baru yang kini lebih dinamis. Re-make lagu lama selalu berisiko bagi setiap band, namun The Genk menganggapnya berhasil.
“Sebagai penutup, ada lagu akustik berjudul "Memori". Sempet kami berpikir apa mungkin ini lagu nostalgia personil The Genk saat masih ngamen di jalan? Saya tidak tahu. lagu ini terinspirasi oleh siapa, namun semakin lama didengar rasanya cocok banget dinyanyikan saat kumpulan, entah di pos ronda, entah dalam lingkaran api unggun saat tamasya, barangkali balada-balada Iwan Fals dalam kemasan Punk Rock,” kata The Genk. (Dinar)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....