Begini Cerita Bisma Seniman Muda Reog Ponorogo, Mampu Angkat Topeng Seberat 50 Kg
- 18 Sep 2024 21:23 WIB
- Surakarta
KBRN, Surakarta: Masih teringat saat pengalaman waktu kecil, Bisma Yudha Wibisana selalu sembunyi ketakutan kalau diajak melihat kesenian asli Ponorogo, Reog. Namun saat beranjak dewasa, justru Bisma sapaan akrabnya di kalangan grup reog, menjadi pembarong atau pemain reog.
Ketertarikan ini muncul saat dirinya diajak gabung di salah satu grup reog saat memasuki jenjang pendidikan sekolah menengah atas.
Dimulai dari melihat dulu semua tahapan pertunjukan reog, akhirnya setelah latihan kurang lebih 2 tahun, Bisma mampu menggigit dan mengangkat reog yang terdiri dari topeng yang dibalut kulit macan dan Dadak Merak yang menjulang tinggi di atas kepala dengan ukuran standard 230 x 240 centimeter yang beratnya bisa mencapai 50 kilogram.
Bahkan ada untuk ukuran yang lebih besar, 275 centimeter x 3 meter yang mencapai 70 kilogram beratnya.
Pemuda lajang 23 tahun ini mengaku, tidak ada ritual khusus agar mampu menggigit dan mengangkat reog, selain latihan fisik seperti fitnes atau mengangkat barbel dan makan yang banyak.
Bisma masih ingat pertama kali menggigit dan mengangkat reog, terjadi sedikit cedera dimana lehernya menjadi sangat kaku dan tidak bisa digerakkan untuk menengok dan mulutnya seperti rasa sariawan akibat menggigit reog tersebut yang terbuat dari bambu.
”Pertama kali dulu, resikonya leher jadi kenceng semua, buat nengok kanan kiri susah, jadi kalau nengok sama badannya ikut muter, itu resiko luar, tapi kalau resiko dalam sariawan, kan kena bambu2 itu, kan gigitannya pake bambu, cokotane reog niku ngangge bambu,” katanya kepada RRI, Rabu (18/9/2024).
Dituturkan pemuda yang tinggal di Sudimoro RT 3 RW 10 Telukan Grogol Sukoharjo ini, resiko cedera yang mungkin muncul dari pertunjukan reog ini terkadang tidak sepadan dengan bayaran tanggapan yang didapat grupnya yang cuma sekitar 4 jutaan.
"Kalau pas jadi pembarong atau yang mengangkat reog, atau pemeran utama waktu pertunjukan reog, itu cuman mendapatkan 200 ribu saja," ungkapnya.
Namun demikian Bisma menegaskan, pertunjukan Reog Ponorogo merupakan bagian untuk melestarikan kebudayaan daerah dan sarana hiburan masyarakat dengan budaya lokal dan memang tidak akan dijadikan sebagai sarana untuk penopang hidup.
Oleh karena itu, para punggawa pengisi kesenian reog termasuk Bisma yang mungkin akan berhenti bermain reog saat sudah berkeluarga ini mempunyai pekerjaan lain sebagai seorang security di salah satu instansi pemerintah di Kota Solo.
Ia pun berharap pemerintah daerah untuk lebih sering menggelar event-event budaya termasuk reog ini. Hal ini ditunjang oleh banyaknya juga pelaku-pelaku seni di Solo Raya.
"Ya, kalau semakin banyaknya gelaran event seni budaya, kekayaan seni budaya Indonesia akan tetap lestari," ujarnya. Gono/AD
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....