Makna dan Filosofi Gunungan Sekaten Keraton Surakarta
- 16 Sep 2024 23:14 WIB
- Surakarta
KBRN,Surakarta: Keraton Surakarta Hadiningrat menyedekahkan dua pasang gunungan dalam hajad dalem Grebeg Sekaten 2024, Senin (16/9/2024). Dua pasang gunungan itu kemudian diperebutkan pengunjung sekaten di Masjid Agung dan Keraton Surakarta.
Sepasang gunungan yang disebut Jalu dan Estri itu tak sekadar sedekah saja. Namun mengandung makna dan filosofi kehidupan manusia yang sangat dalam.
"Sebetulnya prinsip dasarnya ada Gunungan Jalu dan Estri, dan juga gunungan anak juga ada," kata Penghulu Tafsir Anom Keraton Surakarta Hadiningrat, KH Muhammad Muhtarom, di Masjid Agung Surakarta, di sela Grebeg Sekaten.
Gunungan Jalu dan Estri serta anak ini lanjut Muhtarom, menunjukkan eksistensi manusia. Bahwa manusia yang bersuku-suku, berbangsa-bangsa berbagai adat dan bahasa yang menyebar seluruh dunia ini dari dua insan laki-laki dan perempuan
"Asal muasal manusia itu dari dua pasang, kemudian menyebar di seluruh alam semesta ini membentuk suku dan bangsa," kata dia menjelaskan.
Gunungan sekaten ini adalah salah satu syiar Islam yang dilaksanakan para Wali Allah dan turun temurun hingga sekarang.
"Melalui gununan itu kita diingatkan kembali oleh para Wali waktu itu, tentang jatidiri bangsa. Walaupun kita dari berbagai suku bangsa namun kita ini bersaudara, dari asal yang sama," ucapnya.

Puluhan abdi dalem Keraton Surakarta memanggul Gunungan Estri di halaman Masjid Agung Surakarta dalam tradisi Grebeg Sekaten 2024, Senin (16/9). Mulato RRI
Muhtarom juga membeberkan makna dari Gunungan Jalu dan Estri. Dimana Gunungan Jalu ini dibuat dari bahan mentah yang melambangkan sosok seorang pria.
"Artinya seorang laki-laki mempunyai tanggung jawab besar untuk mencari nafkah kehidupan untuk keluarganya. Maka disimbolkan, dilambangkan dengan tiga pala, yaitu pala kapendem, pala kasampar dan pala kagantung ini sumber kehidupan kita," kata Muhtarom.
Kemudian gunungan estri berupa makanan siap saji, seperti rengginang dan macam-macam lainnya.
"Artinya seorang istri harus mampu menange (mengelola) kekayaan suami yang berupa bahan mentah tadi, diolah, dimasak, kemudian untuk mencukupi keluarga," ujarnya.
Dikatakan Muhtarom, bahwa seorang istri tak hanya sebatas pada bagaimana mengolah makanan. Tetapi harus bisa mengelola hasil jerih payah suami untuk keluarga.
"Memanage itu kan luas artinya, seberapapun kekayaan suami bisa mengelola dan yang utama adalah mengharapkan keturunan kita. Kalau tidak ada keturunan maka musnahlah manusia ini," pungkas Muhtarom.

Gunungan Jalu yang berbentuk kerucut terbuat dari bahan mentah berupa hasil bumi dipanggul puluhan abdi dalem Keraton Surakarta dalam tradisi Grebeg Sekaten di Masjid Agung Surakarta, Senin (16/9). Dok Mulato RRI
Dikutip dari situs resmi Pemerintah Kota Solo, Gunungan Jalu atau laki memiliki bentuk kerucut dengan bagian puncak terdapat beberapa kue berbahan tepung beras disertai dengan serangkai telur asin yang dipasang secara melingkar. Pada bagian tubuh dari gunungan kakung terdapat ratusan helai kacang panjang disertai dengan cabai merah besar.
Gunungan kakung dikaitkan dengan lingga atau alat vital laki-laki yang memiliki makna berkaitan dengan asal-usul manusia. Pada gunungan kakung juga merepresentasikan unsur-unsur di dunia, seperti bumi, langit, tumbuh-tumbuhan, hewan, dan manusia.
Sedangkan Gunungan Estri atau putri memiliki bentuk menyerupai payung yang terbuka. Pada bagian puncak dari gunungan putri terdapat kue besar bertumpuk lempengan warna hitam yang dikelilingi dengan kue berbentuk daun.
Pada bagian batang tubuh dari gunungan putri berisi kue ketan berbentuk bintang dan lingkaran yang disebut rengginang, di tengahnya diberi kue dengan ukuran kecil, dan di sekelilingnya dihiasi dengan berbagai bentuk hiasan.
Gunungan putri dikaitkan dengan yoni atau alat vital perempuan. Gunungan putri sebagai lambang putri sejati yang harus memiliki tubuh dan pikiran yang bisa menjaga dan merawat keluarga.
Upacara tradisional sekaten disertai dengan adanya gunungan merupakan warisan leluhur dengan makna mendalam yang bernilai tak terhingga. Oleh karena itu, sangat penting untuk terus melestarikan tradisi tersebut dengan cara senantiasa berpartisipasi memeriahkan tradisi tersebut setiap tahunnya. MI
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....