Eksistensi Tari Sakral Bedhaya Ketawang di Trah Kerajaan Mataram Islam
- 06 Feb 2024 14:58 WIB
- Surakarta
KBRN,Surakarta: Tari Bedhaya Ketawang yang berusia ratusan tahun, sampai kini masih eksis. Tari tersebut kembali dipertunjukkan pada Pengetan Tingalan Jumenengan Dalem (peringatan naik tahta) Raja Keraton Surakarta Hadiningrat Paku Buwono (PB) XIII, Selasa (6/2/2024).
Tari atau beksan ini disebut sakral karena tarian ini tidak boleh ditarikan di luar tembok Keraton Surakarta. Tarian tersebut hanya dipentaskan dihadapan publik sekali dalam setahun, yakni acara hajad dalem ulang tahun jumenengan.
Bedhaya Ketawang ditarikan sembilan penari putri yang masih gadis di hadapan sampeyan dalem sinuhun PB XIII, tamu undangan serta Sentono dan Abdi dalem yang marak sowan.
Tari ini dibawakan putri keraton dan putri dari luar keraton yang telah melalui seleksi ketat. Karena tidak semua penari boleh menarikan tarian Bedhaya Ketawang.
Biasanya selama seminggu menjelang hari H upacara adat peringatan naik tahta, sejumlah penari mengikuti latihan atau istilahnya di lingkungan keraton ajar-ajaran. Ajar-ajaran ini dilaksanakan tiap malam setelah Isya, kecuali malam Jumat libur.
Tarian ini ditarikan dengan durasi kurang lebih dua jam tanpa henti dengan iringan lantunan Gending Kemanak yang terbagi dalam tiga rambahan. Sembilan penari terpilih sebelum membawakan tarian tersebut akan dipingit selama sehari semalam.
Kemudian akan ada sejumlah penari yang dipilih menjadi Ampil-ampil, mereka yang tidak terpilih sebagai sembilan penari utama. Ampil-ampil ini akan membawa pusaka, dan uborampe persyaratan waktu sinuhun atau raja menyaksikan Bedhaya Ketawang. Menjadi kebanggan dan kepuasan bagi para putri yang ditunjuk untuk membawakan tarian maupun Ampil-ampil.
Selain setiap upacara ulang tahun naik tahta, biasanya Bedhaya Ketawang ditarikan setiap hari Anggara kasih (Selasa Kliwon Ageng). Hanya saja tidak dipertontonkan kepada khalayak, tamu, Sentono, abdi dalem bahkan sinuhun sendiri. Hanya kadang sinuhun berkenan akan duduk di dampar untuk menyaksikan.

Dikutip dari Website resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI warisanbudaya.kemdikbud.go.id Beksan Bedhaya Ketawang adalah sebuah tarian pusaka yang hanya dipertunjukkan ketika penobatan atau Tinggalan Dalam Jumenengan Paku Buwana.
Sejarah tari Bedhaya Ketawang ini mengisahkan tentang dalam pertapaan Panembahan Senopati bertemu dan bercinta dengan Ratu Kencanasari atau yang lebih dikenal dengan Kanjeng Ratu Kidul yang kemudian menjadi cikal bakal tarian Bedhaya Ketawang.
Menurut kepercayaan masyarakat, setiap Tari Bedhaya Ketawang ini dipertunjukkan maka dipercaya Kanjeng Ratu Kidul akan hadir dalam upacara dan ikut menari sebagai penari kesepuluh.
Tari Bedhaya Ketawang ini dibawakan oleh sembilan penari. Dalam mitologi Jawa, sembilan penari Bedhaya Ketawang menggambarkan sembilan arah mata angin yang dikuasai oleh sembilan dewa yang disebut dengan Nawasanga.
Sebagai tarian sakral, ada beberapa syarat yang harus dimiliki oleh penarinya. Syarat utama adalah penarinya harus seorang gadis suci dan tidak sedang haid. Jika sedang haid maka penari tetap diperbolehkan menari dengan syarat harus meminta izin kepada Kanjeng Ratu Kidul dengan dilakukannya caos dhahar di Panggung Sangga Buwana, Keraton Surakarta.
Syarat selanjutnya yaitu suci secara batiniah. Hal ini dilakukan dengan cara berpuasa selama beberapa hari menjelang pergelaran. Kesucian para penari benar-benar diperhatikan karena konon kabarnya Kanjeng Ratu Kidul akan datang menghampiri para penari yang gerakannya masih salah pada saat latihan berlangsung.
Ada beberapa legenda yang mengungkapkan perihal lahirnya tarian ini. Suatu ketika, Sultan Agung Hanyakrakusuma, yang memerintah Kesultanan Mataram dari tahun 1613 - 1645 sedang melakukan laku ritual semadi.
Konon, dalam keheningan sang raja mendengar suara tetembangan (senandung) dari arah tawang atau langit. Sultan Agung merasa terkesima dengan senandung tersebut.
Begitu selesai bertapa, Sultan Agung memanggil empat orang pengiringnya yaitu Panembahan Purbaya, Kyai Panjang Mas, Pangeran Karang Gayam II, dan Tumenggung Alap-Alap. Sultan Agung mengutarakan kesaksian batinnya pada mereka.
Karena terilhami oleh pengalaman gaib yang ia alami, Sultan Agung sendiri menciptakan sebuah tarian yang kemudian diberi nama Bedhaya Ketawang. (Gatot)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....