Berawal dari Resep Sang Ibu, Srabi dan Cara Bikang Ini Bikin Pembeli Rela Antre

  • 12 Jun 2026 23:33 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID., Surakarta - Aroma santan yang dipanggang menyambut siapa saja yang melintas di Jalan Gajah Mada, Solo, pada pagi hari. Di saat banyak kuliner tradisional perlahan tergeser zaman, srabi dan cara bikang masih bertahan menjadi bagian dari denyut kehidupan kota.

Bukan hanya karena rasanya yang khas, tetapi karena ada orang-orang yang setia menjaga warisan itu tetap hidup. Di balik tungku yang terus menyala sejak dini hari, Titin, perempuan berkerudung gelap dan bercadar, tampak sibuk bersama suaminya.

Keduanya bekerja tanpa banyak jeda. Sang suami dengan terampil menuangkan adonan ke cetakan gerabah yang panas, lalu menambahkan sareh atau santan kental di atasnya. Sementara Titin melayani pembeli yang silih berganti datang.

Pekerjaan itu bukan sekadar mencari nafkah. Bagi Titin, ada cerita keluarga yang diteruskan dalam setiap srabi dan cara bikang yang dijualnya.

Sudah tiga tahun ia berjualan di kawasan Jalan Gajah Mada. Namun resep yang digunakan jauh lebih tua dari usia lapaknya.

Tungku tradisional dan proses sederhana menjaga resep warisan leluhur (Foto: RRI/ Dinar Rusydiana)

Ia meneruskan usaha sang ibu yang selama puluhan tahun berjualan jajanan serupa di sebuah gang tak jauh dari tempatnya sekarang. "Ini meneruskan ibu. Dulu ibu jualan sudah puluhan tahun. Resepnya masih sama," kata Titin saat ditemui RRI Surakarta pada Selasa, 12 Mei 2026.

Aktivitas dimulai selepas salat Subuh. Saat langit masih gelap, adonan sudah disiapkan dan tungku mulai dinyalakan. Tak lama kemudian pembeli berdatangan. Sebagian mencari sarapan, sebagian lainnya sengaja mampir demi menikmati jajanan yang semakin sulit ditemukan.

Keramaian biasanya hanya berlangsung beberapa jam. Menjelang pukul 09.00 atau 10.00 WIB, dagangan kerap habis terjual.

Di tengah banyaknya pilihan makanan modern, srabi dan cara bikang buatan Titin tetap memiliki penggemar setia. Rahasianya barangkali terletak pada kesederhanaan itu sendiri. Srabi yang lembut dan gurih, serta cara bikang yang manisnya pas dengan tekstur empuk, menghadirkan rasa yang akrab bagi banyak orang.

Dalam buku Kuliner Jawa dalam Serat Centhini, Wahjudi Pantja Sunjata dkk menyebutkan, "Kue srabi merupakan makanan tradisional yang tetap bertahan hingga sekarang. Kue ini menjadi identitas kuliner bagi Kota Surakarta." Sementara cara bikang dijelaskan sebagai kue tradisional berbahan tepung beras yang dipanggang di atas arang, memiliki cita rasa enak dan harga yang terjangkau.

Bagi Yon, salah satu pelanggan yang rutin membeli, kelezatan jajanan itu justru paling terasa saat masih hangat. "Rasanya lembut dan gurih. Cara bikangnya juga manisnya pas dan lembut. Enak dimakan hangat," ujarnya.

Di tangan Titin dan suaminya, srabi dan cara bikang bukan sekadar makanan. Keduanya menjadi penghubung antara masa lalu dan masa kini, menjaga agar sepotong rasa khas Solo tetap bisa dinikmati generasi berikutnya, satu tungku demi satu tungku setiap pagi. (Dinar Rusydiana)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....