Tempat Ibadah Tertua di Kota Solo, Klenteng Tien Kok Sie Bertahan Sepanjang Jaman

  • 20 Mar 2026 15:03 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO, ID, Surakarta - Klenteng Tien Kok Sie yang berada di jantung Kota, di depan sisi selatan Pasar Gede tetap bertahan sepanjang jaman selama hampir 3 abad lamanya mewarnai peradaban Kota Surakarta atau Solo. Klenteng ini merupakan tempat ibadah tertua di Kota Surakarta, dibangun mulai tahun 1745 beriringan dengan perpindahan Keraton dari Kartasura ke Surakarta.

Proses pembangunannya selama 3 tahun, rentang waktu lama disebabkan berbagai macam ukiran serta hiasan ornamen didesign secara detail, penuh dengan filosofi yang bertebaran di setiap sudut klenteng. Menurut Ketua Yayasan Tien Kok Sie, Sumantri Danawaluya, arsitek dari Tiongkok sudah tak terlacak namanya, karena semua dokumen Klenteng sudah hilang hanyut terbawa banjir besar yang terjadi pada Maret 1966.

“Artisteknya dari Tiongkok, namanya sudah tak terlacak, karena dokumen tentang hal tersebut hilang saat banjir besar tahun 1966 tangal 13 sampai 15. Semua dokumen musnah sama sekali ndak ada , kerendem air, cat rusak, tapi bangunan kokoh. Jadi bangunan ini tidak pernah direnovasi secara total. Kemarin saat gempa juga tak terpengaruh karena sistemnya dibuat dengan knock down. Jadi dia sangat fleksibel ada goncangan dia tidak runtuh,” ungkap Sumantri kepada rri.co.id di Klenteng Tien Kok Sie.

Nama yang disematkan pada Klenteng tersebut Tien Kok Sie. Tien artinya melindungi, Kok berarti negara dan Sie tempat ibadah. Jadi arti keseluruhan adalah tempat ibadah yang melindungi negara. Klenteng tersebut digunakan untuk 3 agama atau ajaran, yakni : Konghuchu, Budha dan Tao.

Menurut Sumantri, pendirian Klenteng ini tidak lepas dari kebiasaan orang Tionghoa merantau. Di manapun berada di perantauan selalu membawa agama masing-masing dan mendirikan tempat ibadah secara bersama-sama.

Hal itu juga sesuai ajaran Nabi Gong Cu dari agama Konghuchu bahwa “Jika seseorang atau pemerintah bisa mendirikan tempat ibadah, seyogyanya tidak menghalangi ajaran atau agama lain terutama penduduk di sekitarnya"

“ Itu adalah sejarah dan budaya orang Tionghoa, karena ada ajaran Agama Khonghucu Nabi Gong Cu, Nabi Lao Ce dari ajaran Tao kalau Budha Sidarta Gautama. Nabi Gongcu orangnya sangat toleran, kalau berkobah, selalu bilang , jika seseorang yang kaya atau pemerintah bisa mendirikan tempat ibadah sebaiknya seyogyanya tidak menghalangi ajaran atau agama lain terutama penduduk di sekitar tempat ibadah itu” kata Sumantri menjelaskan.

Sumantri Danawaluya -Ketua Yayasan Tien Kok Sie (Foto:RRI/Joko Putro )

Perjalanan Klenteng Tien Kok Sie juga telah melewati asam garam di sepanjang orde pemerintahan. Pada masa pasca kemerdekaan hingga orde lama, Klenteng ini masih tetap membuka layanan meskipun mendapat tekanan dari masyarakat yang saat itu anti terhadap segala hal berbau Tionghoa diidentikkan komunis.

Orde lama berakhir, pada masa orde baru baru represi pemerintah terhadap Klenteng beserta penganut yang bersembahyang di dalamnya semakin keras.Hingga angin segar tiba di masa reformasi, saat hak-hak masyarakat Tionghoa mulai diberikan.

Menurut tokoh masyarakat Tionghoa Solo Sumartono Hadinoto, Klenteng biasanya didirikan di wilayah pemukiman para penduduk keturunan Tionghoa. Klenteng Tien Kok Sie dikenal sebagai tempat ibadah Tri Darma atau 3 ajaran di Solo, selain Klenteng Coyudan dan Klenteng Srambatan.

“Khonghucu, Tao dan Budha biasanya ke Klenteng atau vihara masing-masing, Budha punya Vihara, Konghucu - Lidang mereka ke ke tempat ibadah masing-masing. Karena di Solo teman-teman Khonghucu dan Tao tempat ibadahnya belum banyak, maka ada tempat ibadah Tri Darma yakni Klenteng Tiong Kok Sie, Coyodan dan Srambatan,” kata Sumartono

Menurutnya, Klenteng Tien Kok Sie ada di pusat Kota depan pasar Gede, yang nota bene pedagangnya campur antara etnis Tionghoa dan etnis Jawa. Kemudian karena banyak pedagang Thionghoa, dulu mereka bilang kawasan Pecinan.

" Namun sebenarnya bukan Pecinan, karena mereka berdagang di kawasan perdagangan sesuai dagangan masing-masing," ungkapnya.

Dengan kebebasan masyarakat etnis Tionghoa menjalankan ibadah, pada saat-saat tertentu seperti momentum tahun baru Imlek, Klenteng Tien Kok Sie selalu penuh dikunjungi umat. Tak hanya itu, pengelola juga menggelar aksi sosial seperti membagikan beras kepada masyarakat yang membutuhkan khususnya di sekitar Klenteng.

Bahkan pada jaman dulu, saat Imlek Klenteng Tien Kok Sie setiap malam selalu memberikan hiburan bagi masyarakat berupa wayang Po Te Hi. Tokoh masyarakat Gandekan Solo YF Sukasno mengisahkan cerita menyenangkan. Karena rumahnya denkat dengan Klenteng, ia bisa menyaksikan hiburan bersama teman-teman kecilnya waktu itu, berbaur etnis Jawa dan Tionghoa.

“Bagi anak-anak waktu itu, ekonomi sangat sulit begitu tembaru nan, tahun barunya Klenteng satu bulan bisa melihat wayang Po Te Hi setiap hari main di luar Klenteng, wah serem, seneng banget terus ya... banyak membagi makanan ditu ada macem-macem, pisang dan sebagainya kue kranjang. anak-anak yang melihat sampai selesai,” katanya.

Tak hanya wayang Po Te Hi yang pentas malam hari, cerita berlanjut pada puncak acara Imlek ada pertunjukan Barongsay. Keliling dari Pasar Gede menuju ke arah timur dan kembali memutar. Sepanjang perjalanan masyarakat memberikan ang pao atau amplop merah untuk para pemain.

“Setelah itu pagi harinya pas apa, gak ingat pasti ada Barongsay, muter dari pasar ke Gede ke Timur balik ke barat sambil nyaplok angpao di pingir jalan. Cara menaruh angpao dikek-i genter tinggi banget sehingga dibutuhkan kemampuan luar biasa pemainnya bisa 3 orang jadi 1 untuk meraih, semakin tinggi angpao diletakkan semakin banyak, atraksi luar biasa kita seneng., ungkap Sukasno.

Klenteng Tien Kok Sie, menjadi saksi sejarah perjalanan Kota Surakarta di sepanjang masa. Menjadi kewajiban semua pihak tak hanya etnis Tionghoa, untuk menjaga aset sejarah bangsa ini sebagai simbol budaya dan peradaban, simbol toleransi antar agama dan antar etnis, supaya tetap bertahan tak lapuk ditelan jaman . ( Wiwid Wida )

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....