Dokter Radjiman Wedyodingrat, Pahlawan Nasional Pejuang Kemanusiaan

  • 17 Mar 2026 13:43 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Berbicara soal dokter tempo dulu yang berperan serta sebagai pejuang kemanusiaan, salah satu sosok yang pantas menjadi inspirasi adalah dokter Kanjeng Raden Tumenggung Radjiman Wedyodiningrat. Dia merupakan dokter Jawa pertama yang mengembangkan praktek kedokteran modern di Keraton Surakarta Hadiningrat.

Radjiman bukan berasal dari kalangan elit Jawa. Dalam tulisan Riris Sarumpet berjudul “Seri Pengenalan Tokoh, Sekitar Proklamasi Kemerdekaan” sosok pahlawan nasional yang lahir di Yogyakarta , 21 April 1879 tersebut anak dari Ki Sutodrono, hanya pensiunan prajurit rendahan dari KNIL. Ketua Solo Societiet Dani Saptono menceritakan, Radjiman muda awalnya bekerja di rumah saudaranya dr Wahidin Sudirohusodo.

“Beliau seorang dari yang berangkat dari kalangan rakyat biasa menuntut pendidikan medis sebenarnya berawal bukan dari sekolah formal tapi bekerja di rumah saudaranya dr Wahidin Soediro Hoesodo (pahlawan nasional) . Mengantar putranya ke sekolah dari bawah jendela kelas ikut mendengarkan pelajaran disitu, “ ungkap Dani Saptoni

Karena kecerdasannya dan tekadnya yang besar dia kemudian diangkat sebagai anak angkat dan melanjutkan sekolahnya di sekolah dokter pribumi atau Stovia di Batavia, sampai menjadi dokter

“Dari situ ada seorang guru berkebangsaan Belanda melihat perbuatan Radjiman merasa kasihan dan diijinkan masuk ke dalam kelas. Berkat kecerdasan dan bantuan dr Wahidin dan mengangkat anak dr Rajiman ini maka dr rajiman boleh bersekolah menamtkan pendidikan sebagai dokter sekolah dokter pribumi di Stovia Batavia saat itu,” katanya

Radjiman lulus secara gemilang, langsung menerima tawaran sebagai pegawai di Centrale Burgelijke Ziekenhuis – CBZ atau Rumah Sakit Umum Batavia dan ditempatkan di Jawa Tengah dan di Jawa Timur, menjadi dokter keliling. Dalam perjalanannya mengobati orang-orang desa yang sakit, timbulah kesadaran bangsa Indonesia menderita di bawah kekuasaan penjajah.

Setelah pengabdian selama enam tahun, ia berhenti menjadi pegawai di CBZ dan memilih mengabdi di pemerintah Keraton Kasunanan Surakarta pada 1906. Prakteknya sempat terhenti saat dia menempuh pendidikan di Belanda dan Jerman sepanjang 1910-1911. Begitu kembali, Radjiman membawa perubahan besar bagi pengobatan di lingkungan keraton.

Dalam tulisan A.T. Sugito berjudul “dr K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat, Hasil Karya dan Pengabdiannya”, rentang tahun 1915-1917 atas usaha Radjiman, Keraton Solo membuka apotek pertama Panti Hoesodo yang sangat penting untuk pelayanan kesehatan. Tidak hanya apotek, Radjiman juga mengusulkan pendirian rumah sakit untuk abdi dalem keraton dan teralisasi diberi nama Panti Rogo, terletak di Kadipolo Solo.

Menurut ketua Solo Societiet tersebut, sekitar tahun tahun 1930-an wabah pes melanda Jawa dokter Radjiman bersama dokter Tjipto Mangunkusumo bahu membahu bersama-sama menanggulangi. Dua dokter pribumi ini memberikan masukan kepada pemerintah untuk memperbaiki rumah, memberihkan saluan-saluran air saat itu untuk membasmi wabah pes.

“Tapi gagasan 2 dokter itu dimanfatkan dokter Belanda pada waktu itu. Kalau orang Jawa “Aji Mumpung” pinjaman besar kepada rakyat untuk memperbaiki rumah mereka dengan bunga besar. sifatnya memaksa akhirnya menjdi sebuah kejadian kontradiktif dan diprotes orang pergerakan saat itu.

Pada 1934, menjelang usia 55 tahun, dokter Radjiman mengajukan permohonan pensiun kepada Raja Keraton Kasunanan Surakarta Paku Buwono X dan dikabulkan. Kemudian ia memilih tinggal di Dusun Dirgo, Desa Kauman, Kecamatan Widodaren Ngawi dan mengabdikan dirinya sebagai dokter ahli penyakit pes, ketika banyak warga Ngawi yang meninggal dunia karena dilanda wabah penyakit tersebut.

Perjuangan selanjutnya Radjiman di bidang politik. Dia bahkan tercatat dalam sejarah sebagai Ketua BPUPKI yang menjadi salah satu penyusun rumusan Kemerdekaan Indonesia dan gagasan membentuk dasar-dasar bersama Presiden pertama RI Sukarno dan founding fathers lainnya.

Makam K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat i Kompleks Makam Pahlawan Nasional Dr. Wahidin Soediro Hoesodo di Jalan Magelang KM 7.5 Kabupaten Sleman, Yogyakarta. ( Foto : Dok/ Pemprov DIY )

K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat wafat pada tanggal 20 September 1952 dalam usia 73 tahun di kediamannya. Sesuai permintaannya dimakamkan di Yogjakarta di Kompleks Makam Pahlawan Nasional Dr. Wahidin Soediro Hoesodo di Jalan Magelang KM 7.5 Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Radjiman dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia pada 6 November 2013 oleh Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono.

Jika perjuangan para dokter di masa dulu pernah dihadapkan pada perjuangan menghadapi wabah pes atau juga kolera, di era sekarang diteruskan pada dokter yang dalam pengabdian masing-masing. Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Prof.Dr.Reviono, dr., Sp.P(K) berpendapat perjuangan para dokter yang sudah diangkat sebagai pahlawan nasional ini sangat mengispirasi dan memberikan semangat bagi dokter-dokter masa kini.

“ Punya kemampuan secara medis namun juga punya konsep kesehatan yang terlaksana karena good will pemerintah saat itu. Dulu ada wabah kolera, penyakit pes, beliau itu punya kepedulian. Itu tidak semua orang punya perhatian mengatasi masalah saat itu. dan beliau orang yang punya perhatian nasib di bidang kesehatan,” kata dr Reviono.

Menurutnya saat ini dunia kedokteran butuh semangat pemikiran seperti dr Radjiman yang punya perhatian kepada masyarakat. Termasuk yang kurang akses pelayanan kesehatan harus terus diperbaiki.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....