Menjaga Warisan Mbok Mas-e Nganten di Ndalem Gondosuli Solo
- 10 Mar 2026 11:30 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Sudah cukup lama bangunan yang terletak di sudut jalan sisi utara barat jalan Gondosuli nomer 125 Laweyan tertutup. Hanya terlihat bangunan tembok tinggi yang kusam, dan jika diintip di dalamnya terlihat rumput alang-alang yang cukup tinggi menutup bangunan utama. Pemilik awalnya merupakan keturunan ke-3 bernama Joko Subekti,dikenal pernah menjabat di salah satu BUMN yang tinggal di Jakarta.
Namun sejak tahun 2015 berganti kepemilikan, salah satu pengusaha batik yang masih tergolong muda Heru Cahyono membeli bangunan tersebut dan kemudian merevitaliasinya. Sekarang semua warga yang melintas bisa melihat bangunan cagar budaya yang berdiri megah bergaya art deco colonial dengan nama Ndalem Gondosuli.
Menurut Heru Cahyono, Upaya merenovasi berawal dari keprihatinan akan kelestarian industri batik, termasuk juga bangunan yang bersejarah semakin mangkrak jika tidak dirawat. Padahal bangunan tesebut menjadi saksi sejarah bagi perjuangan kaum Galgendoe Mbok Mas-e Mas Nganten, sebutan para Juragan Batik di Kampung Laweyan. Bukan hanya pemugaran sisi bangunan, namun revitaliasi juga dilakukan pada aspek pemanfaatan tempat tersebut menjadi Galeri Batik Premium dan sarana edukasi batik
“Saya dalam berdirinya Ndalem Gondosuli awal mulanya keprihatinan terhadap para pengrajin batik, hampir punah dengan saya sebagai pengusaha batik, prihatin akan regenerasi maka saya membikin satu nguri-uri budaya seperti itu, tercipta satu edukasi membatik. Saya cuma merenovasi saja, karena lahirnya batik Laweyan, destinasi, ada bunker, masih sangat asli, “ kata Heru Cahyono.
Lebih lanjut Heru Cahyono menjelaskan, tempat tersebut sekarang juga digunakan untuk edukasi, museum multi media digital, galeri batik, lokakarya, dan destinasi wisata. Juga dilengkapi restoran dengan aneka kuliner bernama “Saudagar Coffee and Lounge”, ruangan mewadahi seni budaya kearian lokal, termasuk paket gala dinner yang dimarakkan penampilan seniman lokal untuk berkarya.
“Sebagai upaya untuk pelestarian batik sebagai warisan dunia, melalui kegiatan workshop, edukasi batik diberikan sesuai tingkatan pengunjung yang hadir mulai TK sampai masyarakat umum”, ungkap Heru.
Tak ada alasan khusus menamai bangunan tersebut menjadi Ndalem Gondosuli. Ndalem merupakan kata dalam bahasa Jawa krama yang berarti rumah atau kediaman, dan Gondosuli merupakan nama jalan. Kendatipun sebenarnya Gondosuli juga merupakan salah satu variasi dari motif batik parang. Bukan itu saja, gondosuli adalah sejenis tanaman yang berbunga putih kecil dan harum baunya.
.webp)
Jika ditelisik ke dalam bangunan Ndalem Gondosuli, tertulis pembuatan tahun 1921 terlihat anggun dan megah. Bahkan di sisi tengah masih dipertahankan keasliannya, termasuk juga keberadaan bunker yang ada di sentong sisi barat. Bangunan megah Ndalem Gondosuli ini sebenarnya hanya merupakan salah satu dari deretan bangunan elok lain di kawasan Kampung batik Laweyan.
Menurut Budayawan Solo Kanjeng Raden Haryo Tumenggung Mufti Raharjo, dalam filosofi Jawa orang akan semakin dihargai jika punya pangeram-eram atau sesuatu yang bisa dibanggakan, salah satunya rumah. Itulah kondisi di Laweyan, sebuah kawasan yang sebenarnya tak hanya ada saat pemerintahan Keraton Surakarta maupun Pura Mangkunegaran, namun sebelumnya saat Kasultanan Pajang.
“Tak hanya keraton Surakarta saat ini dan pura Mangkunegaran , namun pada masa lalu pertengahan abad 16 ada kasultanan Pajang rajanya Sultan Hadiwijoro, kecil bernama mas Karebet remaja Joko Tingkir. Tlatah Kasultanan Pajang utamnya kawasan Laweyan itu. Laweyan memang rumah ndalem wismo griya disana luar biasa, elit eksusiff mewah megah, ada kosmologi filosofi simbolisme kultur Jawa yang memiliki makna,” kata Mufti Raharjo.
Sementara saat dihubungi rri.co.id, Puspita Aquina salah satu masyarakat Solo yang pernah menerima manfaat mengapresiasi upaya yang dilakukan sejumlah pihak termasuk Ndalem Gondosuli untuk mengedukasi proses membatik kepada pengunjung. Merasakan sendiri tingkat kesulitan saat membatik, ia jadi lebih menghargai terhadap batik dan menjadi paham dalam selembar kain batik bisa bernilai jual sangat tinggi.
“Nilai proses membuat yang pantas dihargai. Sulit minta ampun 5 tahap proses agar selembar kain bisa terbentuk. Di daerah Laweyan masih bertahan. Salut beberapa tempat mempertahankan proses membatik sesungguhmya, masyarakat yang kesana bahkan dajar mulai proses melukis, pemalaman sampai proses pewarnaan. Menurut saya sangat pantas dilestarikan. generasi muda harus aware dengan batik,” ungkap Puspita.
Sepakat dengan keinginan banyak pihak, Puspita berharap dengan upaya revitalisasi baik sisi bangunan maupun menjaga makna yang terkandung, akan membuat Ndalem Gondosuli semakin moncer bersinar. Membawa kebaikan bagi warga dalam upaya pelestarian dan pengembangan batik. Sebagaimana motif batik Gondosuli, yang mempunyai filosofi bahwa orang yang memakai diharapkan memperoleh nama yang harum.
Sayangnya saat rri.co.id melintas Selasa 10 Maret 2026 belum bisa menikmati kembali kemegahan bangunan Ndalem Gondosuli. Pintu gerbang tertutup dengan tulisan pengumuman ditutup sementara waktu untuk renovasi. Saudagar Coffee and Lounge, baru akan dibuka kembali untuk umum setelah Idul Fitri 2026. ( Wida)