Kampung Kauman Pasar Legi Solo, Kini Terlupakan

  • 04 Feb 2026 10:01 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Kalau ditanya lokasi kampung Kauman, bisa dipastikan masyarakat Solo akan menyebut Kauman yang terletak di sebelah Masjid Agung Keraton Surakarta. Padahal sebenarnya kampung Kauman juga ada lagi di kawasan Pura Mangkunegaran, tepatnya di depan Pasar Legi Solo.

Ibaratnya kampung Kauman Solo di sisi utara tersebut kini terlupakan dan nyaris hilang, karena masyarakat lebih mengenalnya dengan Kampung Ngebrusan. Saat rri.co.id lewat pada Rabu, 4 Pebruari 2026, hanya terlihat penanda kecil papan nama yang sudah lusuh, ada di pojok barat perempatan Pasar Legi bertuliskan “Kampung Kauman Pasar Legi”.

Jika membuka serat dan arsip lawas sejarah Jawa, sejak jaman Kerajaan Demak berdiri sampai pada periode Kerajaan Mataran Islam, kampung Kauman merupakan suatu wilayah yang ditunjuk raja sebagai salah satu penyangga fungsi religi serta mendukung proses Islamisasi wong abangan. Menurut sejarawan asal Solo yang juga Dosen Universitas Sanata Dharma Yogjakarta Heri Priyatmoko, di Kampung Kauman tinggal para kaum ulama.

“Kauman dalam tata ruang Jawa ada di jaman Kartasura ada, jaman Mataram Islam, kampung yang ditempati para kaum atau penghulu yang bertugas atau bekerja untuk Islamisasi masyarakat. Maka para raja membuat kampung Kauman, “ kata Heri

Pangeran Sambernyawa, pendiri Pura Mangkunegaran yang kemudian bergelar KGPAA Mangkunegara (MN) I, juga membangun Kampung Kauman, untuk menyeimbangkan antara kepentingan ekonomi dan agama. Sayangnya pada Era MN IV, ketika Pura Mangkunegaran digoyang hutang besar dan bahkan mau bangkrut, kemudian memilih berkonsentrasi pada sektor ekonomi.

“Hilang itu kan pilihan MN IV, bukan menyiratkan tidak cinta Islam. Dulu digoyang dengan hutang mau bangkrut. Makanya ngurusi agama terus kacau. Maka dibangun Colomadu, Tasikmadu, akhirnya 2 pabrik menciptakan surga,” ungkap Heri Priyatmoko lebih lanjut.

Setelah berhasil dan Pura Mangkunegaran memiliki banyak dana, dibangunlah Masjid Al Wustho, dan Masjid Kauman dibedol. Maka Kauman-pun meredup, karena elemen penting dalam kampung Kauman sudah terkikis.

“Selain itu Raja Mangkunegara tidak bergelar Sayudin Panatagama, makanya tidak dibebani peng-Islaman lebih lanjut. Maka tumpuan ekonomi menjadi perhatian. Kearifan lokal agama tidak selalu menjadi candu. Dalam Serat MN IV juga mengakui Aku turunan bangsawan, nek dadi ulama ora isoh, nek iso pun tidak terlalu dalam ” ucap sejarawah Heri Priyatmoko.

Namun setelah ditelusuri kampung Kauman Pasar Legi Solo itu hanya kecil, terdiri dari 3 RT, yakni RT 1, 2 dan 3 yang berada di RW 1 kalurahan Kestalan Banjarsari. Bukti lain yang menunjukkan di lokasi tersebut merupakan Kampung para kaum atau ulama adalah Langgar Rowatip.



Langgar Rowatip di dalam kampung Kauman Pasar Legi Solo, bukti sejarah yang menunjukkan keberadaan kampung peninggalan para ulama di Pura Mangkunegaran ( Foto: RRI/Wida)

Keberadaan Langgar Rowatip ini dibangun warga atas prakarsa Muh Habib tahun 1935 sebagai pengganti Masjid Kauman lama yang telah dipindahkan. Bermula dari keprihatinan Habib melihat banyak warga yang tidak sholat setelah Masjid Kauman dipindah ke Al-Wustho. Tanah langgar tersebut, sekarang sudah diwakafkan.

Sri Basuki, salah satu mantu dari cucu Habib menjelaskan kendatipun kecil, kegiatan keagamaan kampung Kauman ini lebih menonjol dibandingkan kampung lain di Kalurahan Kestalan “Alhamdullilah yang punya hadrah cuma disini RW 1, ibu-ibu dan remaja. Sering dipentaskan saat Halal bihalal atau festival-festival,” ucap Sri Basuki.

Selain Langgar Rowatip, situs-situs Mangunegaran yang ditemukan di kampung Kauman antara lain : Makam trek-trekan atau bayi yang meninggal, anak ke 14 dari Mangkunegara IV. Juga kediaman RM Said alias Pangeran Sambernyawa yang sekarang menjadi milik pengusaha ukir kaca Totok Mintorogo. ( Wiwid Wida )

Rekomendasi Berita