Melon Greenhouse Ala BUMDes Gabus, Kualitas Premium Harga Bersahabat
- 26 Jan 2026 11:47 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, SRAGEN: Agrowisata petik buah melon greenhouse bakal menjadi andalan BUMDes Gabus Makmur di Desa Gabus, Kecamatan Ngrampal Kabupaten Sragen. Tak sekadar mencari keuntungan, BUMDes juga berupaya memenuhi konsumsi buah-buahan bagi warga masyarakat Desa Gabus dengan harga yang bersahabat.
Saat awak media mengunjungi area greenhouse akhir pekan kemarin, aroma wangi melon segar menyeruak. Dari dalam ruangan dari plastik UV, ribuan buah melon tampak menggantung rapi, menunggu waktu untuk dipetik.
Bukan sembarang melon, yang dibudidayakan di sini adalah jenis premium: Amanda dan Sweet Hammy (The Blues). Keduanya dikenal memiliki tekstur renyah dan tingkat kemanisan yang tinggi.
"Kemanisannya sudah sangat normal, bahkan sudah di atas Brix 15," ujar Sunar, Ketua Ketahanan Pangan BUMDes Gabus Makmur, sembari menunjukkan buah melon yang siap panen.

BUMDES Gabus Sragen memdbudidayakan melon jenis premium seperti Amanda dan Sweet Hammy (The Blues) yang dikenal memiliki tekstur renyah dan tingkat kemanisan yang tinggi. (Foto: RRI/Mulato)
Lokasi greenhouse tersebut telah disulap menjadi destinasi wisata petik buah melon. Meski tren harga melon premium di pasaran bisa mencapai Rp25.000 per kilogram, BUMDes Gabus Makmur memilih jalan yang lebih merakyat.
"Kami jual mulai Rp20.000 per kilo. Ada yang istimewa mungkin Rp22.000. Kami tidak mau mahal-mahal, yang penting familiar dulu dengan pembeli sekitar. Belum tega kalau mau jual semahal tempat lain," ungkap Sunar pada awak media.
Sunar mengklaim, destinasi petik melon itu bakal menjadi harapan baru bagi BUMDes Gabus. Minat masyarakat diakui Sunar cukup tinggi. Bahkan, ada seorang pembeli sudah memborong 50 buah.
"Strategi ini terbukti ampuh; selain menggerakkan ekonomi desa, warga bisa mencicipi buah kualitas ekspor dengan harga "kanca" (bersahabat)," ucapnya.
Uji coba buah melon ini dilakukan di atas lahan berukuran 35 meter dengan kapasitas 940 batang. Menurut Sunar, menanam di dalam greenhouse jauh lebih terkendali dibandingkan di lahan terbuka.
"Kami ini petani tulen. Merawat di dalam greenhouse ternyata lebih mudah kontrolnya dibanding di luar, meski memang biaya investasinya lebih tinggi di awal," ujar dia.
Melon hanyalah pintu pembuka. Di sisi selatan Desa Gabus, BUMDes juga tengah mengelola 1 hektar lahan yang ditanami 1.600 pohon Pisang Cavendish. Saat ini, pohon-pohon tersebut sudah tumbuh setinggi satu meter.
Tak hanya itu, di sisi utara, terdapat 2 hektar lahan tebu melalui Dana Desa untuk program Ketahanan Pangan (Ketapang). Bicara soal prospek, Pak Sunar tampak optimistis. Selain sudah memiliki jaringan tengkulak non-formal hingga tingkat provinsi, pihaknya juga membidik pasar potensial melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG).
"Beberapa pihak MBG sudah minta tester. Ke depan, selain melon, pisang Cavendish kami juga akan diarahkan ke sana. Saat ini kami sudah punya pelanggan tetap untuk skala pribadi, tinggal nanti kalau sudah panen raya, BUMDes yang masuk," ujarnya.
Langkah Desa Gabus membuktikan bahwa jika dikelola dengan hati dan manajemen yang tepat, Dana Desa bisa berubah menjadi aset produktif yang menyejahterakan warga. MI