Inklusi Keuangan Berwajah Humanis Melalui Agen Keuangan
- 30 Nov 2025 00:43 WIB
- Surakarta
KBRN, Surakarta: Di banyak desa, akses terhadap layanan keuangan tidak hanya ditentukan oleh jarak, tetapi juga oleh kesempatan. Meski teknologi perbankan terus berkembang, tidak semua warga dapat menjangkaunya secara praktis, sehingga kehadiran agen keuangan yang humanis sangat membantu. .
Di titik inilah agen layanan keuangan berbasis masyarakat mengambil peran, hadir bukan sebagai kantor cabang, tetapi sebagai bagian dari keseharian warga.Tarmini, ibu rumah tangga berusia 38 tahun saat ditemui RRI Surakarta (22/11/2025) mengungkapkan bahwa dirinya menjadi pengguna setia layanan ini sejak 2018.
Ia mengaku memilih layanan agen bukan karena kecanggihan teknologi, tetapi karena rasa aman dan kemudahan yang ia dapatkan.“Lebih aman, semua transaksi dibantu, dan kita tidak perlu kemana-mana,” ujarnya.
Seiring waktu, Tarmini merasakan manfaat lain yang tidak tertulis di brosur yaitu kedekatan sosial. Hubungan dengan agen terasa lebih akrab, seperti berinteraksi dengan tetangga sendiri.
Transaksi yang paling sering ia lakukan adalah pembayaran belanja online. Kendati demikian, ia berharap pelayanan bisa terus ditingkatkan, terutama soal jaringan yang menurutnya kerap mengganggu.
“Harapannya jaringan diperbaiki, biar nggak sering error,” katanya.
Pengalaman serupa dirasakan Suratman (40 tahun), Warga desa Kemiri, Mojosongo, Boyolali . Baginya, layanan keuangan yang hadir di desa memenuhi kebutuhan warga yang ingin serba ringkas.
“Lebih mudah, layanannya baik dan dekat. Mempermudah saya bertransaksi,” ucapnya.
Dengan semakin banyaknya warga yang bergantung pada layanan ini, Suratman berharap kompetensi agen turut ditingkatkan.
“Harapan saya, agen diberi pelatihan supaya layanannya makin meningkat,” ujarnya.
Inklusi keuangan bukan tumbuh dari gedung tinggi, melainkan dari teras rumah seorang warga desA. Sri Winahyuni (44 tahun) warga desa Kemiri, Kecamatan Mojosongo, Boyolali menjalankan perannya sebagai agen layanan keuangan.
Niat awalnya sederhana yaitu membantu warga agar tidak perlu jauh-jauh untuk membayar listrik, air, atau transaksi rutin lainnya.Informasi tentang layanannya ia sebarkan hanya melalui grup WhatsApp pemuda desa.
Tanpa promosi besar, warga datang satu per satu. Kini, transaksi di tempatnya mencakup setor tunai, pembayaran kredit, tagihan listrik, hingga top up saldo digital.
Namun menjadi agen berarti juga menghadapi risiko. Sri bercerita tentang pengalaman ketika salah satu warga hampir menjadi korban penipuan.
“Pernah tetangga saya kena tipu sembilan juta. Mau tambah lagi tujuh juta. Yang kedua tidak saya kirim,” ujarnya. “Sebenarnya disarankan terima uang dulu baru transaksi, tapi kan orang desa, sungkan.”
Sejak itu, Sri semakin berhati-hati. Ia memastikan uang tunai disetor setiap hari agar tetap aman. Meski aturan diperketat, kedekatan sosial tetap terjaga.
Banyak warga yang sudah terbiasa bertransaksi melalui WhatsApp, sekadar meninggalkan pesan sebelum datang membayar. Tetapi Sri tetap menegakkan aturan sederhana yaitu siapa yang menepati janji akan dilayani, siapa yang tidak, terpaksa ditolak.
“Kalau yang bilang bayar sore dan benar-benar bayar, ya saya layani. Tapi kalau janji besok bayar tapi ternyata tidak, ya tidak saya layani,” katanya.
Kisah Tarmini, Suratman, dan Sri menunjukkan bahwa inklusi keuangan di desa berjalan bukan hanya lewat mesin EDC atau aplikasi digital. Ia tumbuh dari kepercayaan, kedekatan, dan relasi sosial antarwarga.
Meski masih ada kekurangan, seperti jaringan tidak stabil atau kebutuhan pelatihan tambahan bagi agen, akan tetapi kehadiran layanan ini terbukti memudahkan warga menjalankan aktivitas finansial tanpa harus pergi jauh. Yang paling penting, layanan itu hadir melalui wajah-wajah yang mereka kenal yaitu tetangga sendiri. Sebuah bentuk inklusi keuangan yang lebih manusiawi, hangat, dekat, dan menyatu dengan kehidupan sehari-hari. (Muhammad Arifin – RRI Surakarta)