Melihat Lebih Dekat SPPG Gemolong-1, Komitmen Penuhi Gizi Anak
- 14 Okt 2025 14:35 WIB
- Surakarta
KBRN,Sragen: Belum hilang dari ingatan, insiden keracunan massal yang terjadi pada ratusan penerima program MBG (makan bergizi gratis) di sejumlah sekolah di Kecamatan Gemolong Sragen, 12 Agustus 2025 lalu. Kejadian itu menjadi catatan penting bagi Satuan Pelaksana Pemenuhan Gizi (SPPG) Mitra Mandiri 1 Gemolong.
Hasil investigasi yang menyatakan bahwa penyebab keracunan adalah higienitas sanitasi membuat pengelola SPPG berbenah total dan memperketat SOP (Standar Operasional Prosedur). SPPG tak ingin peristiwa itu kembali terulang, dan berkomitmen untuk memberikan pelayanan gizi terbaik bagi anak-anak penerima manfaat.
Aditya Anom Wibowo Kepala SPPG Gemolong 1 Kabupaten Sragen, menyatakan kejadian itu menjadi pukulan keras pengelola SPPG. Ia tak mengelak, ada hal kecil SOP dan lain-lain yang mengkin terlewat, dan menjadi pelajaran penting untuk meningkatkan SOP agar kejadian tidak terulang.
"Kalau itu tetap jadi evaluasi, itu merupakan pukulan ya. Sebenarnya ada yang mungkin terlewat faktor SOP dan lain-lain mungkin terlewat itu menjadi evaluasi yang penting. Akhirnya kita melalui evaluasi itu bagaimana caranya agar kejadian itu enggak terulang lagi," ucap Aditya saat dijumpai di SPPG Gemolong 1 baru-baru ini.
Aditya menyebutkan, salah satu contoh evaluasi itu diperketat SOP-nya. Kemudian kebersihan seluruh sanitasinya dan diperbaiki pemilihan bahan-bahan pangan yang akan disajikan. "Itu evaluasi utama, itu penting banget untuk diperbaiki," ujar dia.
Disinggung pasca kejadian banyak orang tua yang khawatir bahkan menolak mengkonsumsi makanan MBG, Aditya tidak menampik. Tapi pihaknya menegaskan bahwa SPPG menjamin keamanan pangan bagi penerima manfaat.
Diawali dari pemilihan bahan yang fresh hingga disediakan tester bagi guru sebelum makanan dinikmati anak anak sekolah. "Untuk menjamin terutama bahan ya kita akan mendapatkan bahan itu ya harus fresh, kalau itu tidak fresh kita langsung kembalikan. Pokoknya bahan itu ya terbaiklah," ucap Aditya.
Kemudian untuk keamanan itu setiap hari kita lakukan uji tes dulu, apakah bahan makanan setelah proses dari mentah ke masak itu masih layak untuk dikonsumsi. "Itu kita lakukan uji tes kemudian juga kita sediakan sampel untuk menanggulangi (keracunan) itu ke sekolah. Artinya ada makanan yang bisa dicicipi (guru sebelum dikonsumsi anak)," katanya menjelaskan).
Tak hanya itu Aditya mengklaim SLHS atau sertifikat laik higiene dan sanitasi telah dikantongi saat SPPG beroperasi pertengahan Februari lalu. Sertifikat itu diterima bersama dua SPPG lainnya, yakni SPPG Gemolong 2 dan SPPG Kodim Sragen. Pihaknya tengah mengurus sertifikat halal yang masih berproses.
"Jadi saya penempatan di sini sudah ada itu untuk pun yang terbaru mungkin kekurangan-kekurangannya seperti kayak sertifikat halal dan lain-lain kita juga masih mengurusnya masih proses."
Aditya menyampaikan waktu memasak dimulai sejak malam sekitar pukul 20.00 dengan menyiapkan bahan. Kemudian mulai memasak itu pukul 02.00 dinihari sampai pagi.
"Pukul 07.30 itu biasanya kloter pertama sudah diberangkatkan ke sekolah, dan paling siang itu pukul 09.00 semua makanan sudah sampai pada penerima manfaat," ujar Aditya.

Petugas SPPG Gemolong 1 menyuplai makanan di salah satu Sekolah di Kecamatan Gemolong Kabupaten Sragen. (Foto: RRI/Dok SPPG)
SPPG Gemolong 1 setiap harinya menyuplai MBG untuk 3.200 siswa dari 15 sekolah di wilayah Kecamatan Gemolong. Setiap hari dilakukan perubahan menu. Bahkan disediakan menu requests dari penerima MBG yang biasanya direalisasikan setiap hari Jumat atau Rabu seperti disampaikan Anisa Tri Banowati Ahli Gizi MBG Gemolong 1.
"Iya ada request, biasanya anak-anak tuh paling suka ayam crispy, sama ikan dori crispy, karena kan anak-anak sekarang sukanya yang kering-kering ya makanan yang kering. Maksudnya olahannya yang kering gitu biasanya paling suka itu," ucap dia.
Dia memiliki 10 master menu yang rutin disajikan selama dua pekan, selalu diputar. Sementara untuk dalam sepekan ada menu requests yang disajikan berdasarkan permintaan penerima program.
"Dalam satu minggu itu kita akan kasih ayam katsu semisal contoh di hari Jumat atau di hari Rabu atau di dalam satu minggu ada satu hari itu yang khusus untuk paling banyak request," kata dia.
Perubahan besar SPPG Gemolong mendapatkan apresiasi pihak sekolah penerima program. Salah satu perwakilan dari SMPN 2 Gemolong bertemu Komisi IV DPRD Sragen beberapa waktu lalu mengakui sudah banyak perubahan.
Pada awal dimulainya MBG pasca keracunan massal anak-anak memang agak takut makan. Bahkan ada yang dipesan orang tua agar tidak memakan menu MBG di sekolah.
Namun setelah disampaikan hasil evaluasi dan perbaikan, anak-anak sudah tidak lagi trauma. Sebagian besar menikmati menu makanan yang disajikan.
"Dulu tempat makan itu baunya agak amis, tapi sekarang sudah tidak seperti biasanya, sudah tampak steril. Kemudian nasinya kelihatan lebih lembut seperti beras Menthik Wangi, anak anak bisa menikmati dengan lahap sesuai selera. Kondisi sekarang anak anak bisa menikmati MBG lebih baik dan senang hati," ucap perwakilan sekolah kepada Komisi IV DPRD Sragen.
Ari Sudarmanto dari SMPN 1 Gemolong juga menyampaikan hal sama. Setelah mengalami keracunan itu ada beberapa anak yang trauma dan dipesan orang tua tidak boleh makan MBG. Kemudian setelah dilakukan edukasi dari sekolah, SPPG dan Dokter Puskemas anak-anak dapat menerima dan kembali menikmati MBG.
"Sekolah mengadakan edukasi bahwa makanan itu diproses sesuai dengan SOP dengan perbaikan perbaikan pihak MBG. Setelah dilakukan edukasi Jumat berwawasan kita sampaikan sejumlah perbaikan dan makanan itu sudah aman sangat layak dikonsumsi," ucap Ari.
Dengan komitmen SPPG Gemolong 1 memperketat pelaksanaan SOP dapur MBG diharapkan kejadian itu tak terulang. Terlebih belakangan banyak kejadian kasus keracunan MBG di berbagai daerah. MI
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....