Menggapai Asa di Tengah Kesendirian

  • 15 Jul 2025 10:09 WIB
  •  Surakarta

KBRN, Surakarta: Celoteh riang, canda tawa bocah-bocah cilik yang biasa mewarnai setiap kali awal masuk sekolah pada tahun ajaran baru, tak lagi terdengar. Salah satu ruangan di SDN Kauman Surakarta, tepatnya di kelas 1, lengang dan terlihat kosong.

Hanya 1 siswa yang duduk seorang diri di ruangan kelas yang cukup besar. Dia adalah Abrizam Wahyu Irtaza.

Sebelum masuk kelas, Abrizam-pun mengikuti apel pagi bersama puluhan siswa kakak kelasnya di halaman sekolah, Senin (14/7/2025). Pada barisan peserta apel, bocah yang berpenampilan riang ini tetap semangat, walaupun tak ada kawan yang menyertai.

Ketika sendiri di kelas 1, Abrizam nampak antusias mengikuti kegiatan belajar untuk mendapatkan ilmu, bekal mengejar asa di masa depan. Tak ada kesan gelisah di wajahnya. Bahkan bocah yang berperawakan kecil ini aktif saat diajak berinteraksi oleh guru kelasnya.

Abrizam mengaku senang bisa naik ke jenjang sekolah dari TK ke SD, kendatipun hanya seorang diri bersekolah di kelas. Karena baru pertama menjejakkan kaki di SD, kedatangannya ke sekolah diantar ayah dan kakaknya bernama Gibran.

“Sekolah di SDN Kauman seneng. Berangkat sama Bapak sama kakak. Kakak saya namanya Gibran” katanya.

Wali Kelas I SDN Kauman, Sri Handayani mengatakan, dalam pengalamannya sebagai guru selama puluhan tahun, ini kali pertamanya mengajar hanya satu siswa. Namun, pihak sekolah tetap berkomitmen memberikan layanan pendidikan maksimal.

Dipastikan tidak ada perbedaan layanan meski hanya ada satu siswa di kelas I. Termasuk kegiatan apel pagi SDN Kauman juga digelar mengawali Masa Pengenaan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ajaran 2025/2025. MPLS berlangsung sesuai jadwal selama lima hari hingga Jumat (18/7/2025).

“Justru akan kami prioritaskan agar anak merasa nyaman. Kami punya cara-cara agar tidak merasa sendiri di sekolah,” ujarnya.

Minimnya jumlah siswa baru di SDN Kauman dipengaruhi berbagai faktor. Seperti lokasi sekolah yang berada di jantung kota dan dekat kawasan perkantoran serta pasar. Juga adanya pilihan sekolah swasta di sekitar wilayah tersebut.

SD Negeri Kauman Kota Surakarta hanya memperoleh satu siswa dalam pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ini. Siswa tersebut tercatat mendaftar melalui jalur afirmasi bagi keluarga tidak mampu,

Sri Handayani yang juga panitia SPMB , menyampaikan kondisi ini berbeda jauh dibanding tahun-tahun sebelumnya. Tahun lalu sekolah ini masih menerima 11 siswa baru.

Berbagai upaya promosi telah dilakukan, mulai dari siaran radio hingga menjalin kerja sama dengan paguyuban wali murid. Namun, kendala utama tetap pada sistem zonasi yang membatasi penerimaan hanya dari wilayah tertentu.

“Geografis sekolah kami kurang mendukung karena dikelilingi area perkantoran, pasar, dan pusat ekonomi seperti Pasar Gede, Pasar Klewer, dan PGS. Tidak banyak pemukiman di sekitar sini,” ucapnya.

Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan Kota Surakarta, Dian Rineta, mengakui masih ada sejumlah SD negeri yang hanya mendapatkan belasan siswa baru. Salah satu penyebabnya adalah tren orang tua yang lebih memilih menyekolahkan anak ke sekolah berbasis agama pada jenjang TK dan SD.

“Ini kenyataan bahwa saat ini ada perubahan pola pikir, terutama untuk TK dan SD, mereka ingin menyekolahkan ke sekolah agama. Tapi mulai SMP dan SMA justru kembali ke sekolah negeri,” katanya.

Sebagai solusi jangka panjang, Dinas Pendidikan membuka opsi melakukan regrouping atau penggabungan sekolah. Dilakukan dengan mempertimbangkan tren pendaftar dari tahun ke tahun.

Selain itu, regrouping juga menjadi solusi untuk mengatasi kekurangan guru akibat pensiun yang tidak sebanding dengan penambahan tenaga pengajar baru. Namun demikian, Dian memastikan siswa tetap akan dilayani, meski hanya satu orang.

“Secara aturan, satu siswa pun tetap dilayani, tapi kami juga melihat dari sisi efisiensi dan efektivitas pengelolaan sekolah," kata Dian. (Dania)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....