Es Tong Tong Jadul, Kesegaran Sederhana dari Gerobak Warna-Warni Bikin Nostalgia

  • 02 Okt 2026 18:02 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta – Di tengah gempuran minuman kekinian, gerobak es tong tong dengan cat biru dan merah yang mulai mengelupas masih setia berkeliling menyapa pembeli. Satu per satu sendok es diambil dari tabung penyimpanan, lalu dituang ke gelas plastik dan ditemani potongan roti tawar. Pemandangan sederhana ini mungkin terlihat biasa, tetapi bagi banyak orang, semangkuk es tong tong adalah pintu menuju kenangan masa kecil.

Es tong tong sebenarnya dikenal dengan banyak nama, mulai dari es puter, es tung-tung, hingga es dung-dung. Dikutip dari penelitian Politeknik Negeri Jember, es puter merupakan salah satu jenis es krim di Indonesia yang digemari semua kalangan, dari anak-anak hingga orang dewasa, dan biasanya dijual keliling menggunakan gerobak kecil. Nama tung-tung konon berasal dari suara pentungan yang dibunyikan penjual untuk menarik perhatian pelanggan.

Hal yang membedakan es tong tong dari es krim biasa adalah bahan dasarnya. Dikutip dari jurnal Universitas Tujuh Belas Agustus 1945 Jakarta, bahan baku utama es puter adalah es batu, gula pasir, dan santan kelapa, bukan susu seperti es krim pada umumnya. Penggunaan santan ini lahir dari keinginan masyarakat Jawa untuk menikmati es krim di masa ketika susu masih tergolong barang mewah. Hasilnya justru rasa yang lebih gurih dengan tekstur sedikit kasar yang menjadi ciri khasnya, biasanya dipadukan dengan mutiara, nangka, durian, atau kelapa muda.

Proses pembuatannya pun masih mempertahankan cara tradisional. Adonan dimasukkan ke dalam tabung yang diputar di antara campuran es batu dan garam agar membeku perlahan. Cara penyajiannya juga beragam, ada yang memakai kerucut dari bahan mirip kerupuk, roti tawar, hingga gelas plastik seperti yang masih sering dijumpai di gerobak-gerobak keliling. Kesederhanaan inilah yang membuat es tong tong terus bertahan, meski jumlah penjualnya kini tak sebanyak dulu.

Salah satu pembeli, Sasa, mengaku senang bisa kembali mencicipi jajanan yang sudah jarang ditemuinya ini. "Rasanya bikin inget masa kecil, soalnya sekarang udah susah nemu es tong tong yang masih jualan keliling," ujarnya. Ia menambahkan bahwa rasa santan yang gurih dan manisnya yang pas menjadi alasan es ini tetap digemari. "Sederhana banget, tapi entah kenapa rasanya beda dan bikin nagih. Semoga penjualnya bisa terus bertahan," katanya.

Bagi pencinta jajanan jadul, kehadiran es tong tong bukan sekadar soal rasa, melainkan juga soal merawat kenangan. Setiap sendok es yang meleleh di lidah membawa cerita tentang masa kecil, suara pentungan penjual di ujung gang, dan kebahagiaan yang dulu bisa dibeli hanya dengan beberapa keping uang receh. Selama masih ada yang mau mengayuh gerobaknya, es tong tong akan tetap punya tempat di hati penikmatnya. (Barista/ Putri Magang LPU)

Referensi:

  • Politeknik Negeri Jember

  • Universitas Tujuh Belas Agustus 1945 Jakarta

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....