Sepatu Wastra Buatan UKM Lokal Solo Bidik Pasar Diaspora di Eropa

  • 18 Sep 2026 23:04 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Pelaku UMKM Sepatu Wastra Nusantara, Denok Marti Astuti, mengembangkan sepatu berbahan kain wastra. Kain tenun ini dari Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM), yang dipadukan dengan kain jeans.

Produk handmade tersebut mulai membidik pasar diaspora Indonesia di Eropa. Denok mengatakan, produk sepatu yang mengusung sentuhan budaya tersebut memiliki pasar yang cukup menjanjikan.

Selain konsumen lokal yang mencintai produk budaya, sepatu buatannya juga mulai diminati masyarakat Indonesia yang tinggal di luar negeri karena menjadi bagian dari kerinduan terhadap tanah air. "Pasarnya malah diaspora di luar negeri karena mereka cinta dan rindu tanah air," ujar Denok, baru-baru ini.

Sejumlah produksinya telah dibawa oleh konsumen diaspora ke beberapa negara Eropa, diantaranya Belanda dan Jerman. Namun, penjualannya hingga kini masih terbatas, yakni hanya sekitar 40 hingga 45 pasang. Denok berharap pemasaran dapat diperluas melalui toko daring, reseller, serta pemanfaatan teknologi, termasuk pembuatan video promosi berbasis kecerdasan buatan (AI).

Menurutnya, peningkatan penjualan tidak hanya berdampak pada perkembangan usahanya, tetapi juga keberlangsungan para pekerja yang terlibat dalam proses produksi. "Kalau penjualan laku lebih banyak, karyawan kita juga bisa hidup lebih baik," katanya.

Denok menjelaskan, usaha sepatu wastra berawal dari keprihatinannya terhadap kondisi pengrajin sepatu lokal di Solo yang menghadapi persaingan produk impor berharga murah. Seluruh produk sepatu yang dibuatnya dikerjakan secara handmade dengan melibatkan pengrajin lokal.


Selain menghidupkan kembali pengrajin sepatu, usaha tersebut juga diarahkan untuk mendukung pengrajin kain tenun ATBM agar produk wastra nusantara memiliki nilai tambah. Harga sepatu wastra Denok dibandrol mulai Rp250.000.

"Untuk produk tertentu, seperti sepatu boots hingga selutut yang dipadukan dengan kulit dan kain wastra, harganya dapat mencapai Rp1,5 juta rupiah," kata dia.

Denok berharap sepatu wastra tidak hanya digunakan oleh masyarakat yang mencintai produk budaya lokal, tetapi dapat diterima oleh konsumen yang lebih luas sebagai produk fesyen dengan sentuhan kearifan lokal. (Siti fatimah/ Ita)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....