Didorong Go Digital, UMKM Senior Solo Raya Butuh Pendampingan
- 15 Sep 2026 18:24 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Perkembangan teknologi digital mendorong pelaku UMKM di Solo Raya mengubah cara memasarkan produknya. Tidak lagi hanya mengandalkan pameran maupun toko fisik, media sosial kini menjadi salah satu sarana penting untuk memperluas pasar, bahkan hingga mancanegara.
Di tengah perubahan pola pemasaran tersebut, tantangan justru dirasakan sebagian pelaku UMKM senior. Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia atau ASEPHI Solo Raya mencatat, banyak perajin berusia di atas 45 tahun memiliki kemampuan produksi yang kuat, namun masih terbiasa menggunakan pola pemasaran konvensional.
"Kondisi ini mendorng adanya pendampingan dan pelatihan agar pelaku usaha mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital," ucap Sekretaris ASEPSI Solo Raya Margo, kepada rri.co.id Selasa 15 September.
Ia mengatakan khusus anggota ASEPHI saat ini belum banyak yang ke arah digitalisasi karena para pelakunya itu rata-rata usia di atas 45 ke atas . Namun demikian beberapa yang sudah digitalisasi lewat regenerasi dari dari keluarga baik anak atau saudara.
Menurut Margo justru saat ini di pasar online banyak dijalankan usia 20 hingga 40 ke bawah. Pelaku UMKM itu banyak yang ahli di bidang produksi dan menjalankan usaha lewat cara tradisional.
"Padahal di era saat ini, pasar online jadi prioritas utama. Tantangan pengurus ASEPHI Solo ingin memberikan pelatihan untuk mendorong perubahan dari market tradisional menjadi modern. Karena digitalisasi teknologi saat ini bukan sekadar informasi, tapi sudah jadi gaya hidup dan media branding untuk mengenalkan siapa diri kita.” katanya menjelaskan.
Selain kemampuan menggunakan teknologi, keterbatasan sumber daya manusia dan kemampuan membuat konten kreatif juga menjadi kendala bagi pelaku UMKM.
Namun, pengalaman sejumlah pelaku usaha menunjukkan, pemanfaatan media sosial dapat menjadi pintu masuk untuk memperluas pasar. Salah satunya dilakukan Batik Marin Laweyan.
Usaha yang mengembangkan batik dengan pewarna alam dan malam ramah lingkungan berbahan kelapa sawit ini memanfaatkan WhatsApp dan Instagram untuk promosi sekaligus menjangkau konsumen.
Owner Batik Marin Laweyan Marin, mengatakan selain penjualan di beberapa media sosial, juga dengan offline di beberapa tempat seperti bandara, hotel dan tempat tempat wisata.
“Untuk digitalnya, kita fokus ke promosi dan penjualan lewat WhatsApp dan Instagram. Meskipun e-commerce belum aktif karena terbatasnya admin dan kita masih fokus di produksi,promosi lewat Instagram sangat membantu membentangkan pasar. Kebanyakan pembeli kita justru datang dari luar kota bahkan luar negeri yang tertarik dengan batik ramah lingkungan ini.” ujar Marin.
Pemanfaatan platform digital menunjukkan bahwa media sosial tidak hanya berfungsi sebagai sarana promosi dan penjualan. Lebih dari itu, media sosial menjadi ruang bagi pelaku UMKM untuk membangun identitas dan memperkuat branding produk lokal.
Bagi UMKM Solo Raya, pendampingan dari asosiasi, pelatihan pembuatan konten, serta kolaborasi dengan berbagai pihak menjadi langkah penting untuk mempercepat transformasi pemasaran.
Dengan kemampuan digital yang semakin kuat, produk kerajinan lokal diharapkan tidak hanya mampu bertahan di pasar tradisional, tetapi juga semakin percaya diri menembus pasar nasional hingga global. (Lidia)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....