Hidden Gem Wedangan Cipluk, Tempat Santai untuk Nongkrong
- 30 Jan 2026 14:36 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Tradisi wedangan sudah familier di kalangan masyarakat Solo dan sekitarnya. Sehingga tempat wedangan itu mudah dijumpai dengan ciri khasnya di pinggir jalan dengan menggunakan gerobak dorong.
Salah satu pemilik warung wedangan Cipluk di Klaten, Sriyono yang akrab dengan sapaan Pak Cipluk. Ia mengaku warung wedangannya tak kalah fenomenal dan sudah melegenda.
Meskipun warungnya berada jauh dari jalan besar, namun bagi penggemar seolah tidak akan melewatkan begitu saja tanpa mampir di warungnya. Tempat jualannya tidak seperti biasanya menggunakan gerobak tetapi memanfaatkan teras dan halaman rumah sehingga pengunjung dapat duduk di kursi bahkan juga dengan lesehan sambil menikmati menu khas yang disajikan.
Sajian wedang jahe yang berbeda dengan biasanya menjadi paling disenangi pengunjung. Dengan bahan jahe, sereh yang terlebih dulu dibakar, ditambah irisan jeruk nipis, ditambah gula aren dan air panas di dalam satu gelas menjadi minuman yang cukup nikmat.
Namun yang membuat berbeda tersedianya air panas di termos di setiap meja dan tambahan gula batu jika ingin menambah air ke gelas jahe. Menurut Sriyono yang sering dipanggil pak Jipluk, salah satu khas di tempatnya yakni tersedianya tambahan air panas atau gula secara gratis bagi pelanggan yang masih ingin berlama-lama bersantai.
“Jahe di sini berbeda dari tempat wedangan lain. Saya membuatnya over dari jahe gula dan air bisa ditambah. Untuk jahe dan sereh dibakar dulu, tambah gula aren dan gula batu,” katanya kepada rri.co.id, Selasa, 27 Januari 2026.
Selain wedang jahe resep buatanya yang menjadi khas di tempatnya, juga wedang teh poci yang disajikan menggunakan poci. Diceritakan Sriyono usaha wedangan yang dirintisnya telah berdiri sejak 2019 dan hingga kini terus eksis.
Sebelumnya ia membuka kantin di salah satu kantor pajak di Karanganyar, kemudian di usia lebih dari 60 tahun ia kembali ke rumahnya di Klaten.
Usaha wedangannya buka mulai jam 18.00 WIB hingga larut malam. Setiap malam rata-rata lebih dari 80 orang datang silih berganti, selain warga Klaten juga dari Solo, Sukoharjo dan lain-lain .
“Orang lama masih minta teh poci, biasanya menggunakan produk Bayat dengan menyediakan empat rasa,“ katanya
Selain minuman khas wedangan, di tempatnya juga menyajikan makanan gorengan hangat berupa pisang goreng, bakwan, singkong goreng, getuk goreng, tempe dan tahu goreng.
Tak hanya camilan, pak Cipluk juga menyediakan makanan seperti bakmi goreng dan godog, capcay, nasi goreng, rica enthok dan masih banyak lagi. Para pengunjung di wedangan Cipluk juga dapat menikmati alunan live musik.