Revitalisasi Batik Kekinian pada Batik Wulannik di Solo

  • 20 Nov 2025 22:31 WIB
  •  Surakarta

KBRN, Surakarta: Upaya pelestarian budaya batik kembali mendapat angin segar melalui Program Inovasi Seni Nusantara (PISN), Minggu (16/11/2025), yang dijalankan tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) dari Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.

Program ini menghadirkan terobosan baru berupa eksplorasi motif batik sederhana dan pengembangan produk fesyen modern, seperti jaket dan vest, dengan menggandeng Batik Wulannik Solo sebagai mitra utama.

Program PISN yang diinisiasi oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat serta Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi ini dipimpin oleh Danang Priyanto, S.Tr.Sn., M.Sn.

Pihaknya menggandeng sejumlah dosen, yakni Dr. Dhian Lestari Hastuti, S.Sn., M.Sn., Dr. Taufik Murtono, S.Sn., M.Sn., serta Pratita Rara Raina, S.H., M.B.A., bersama tim mahasiswa Saifudin Aulya Akhsan, Dony Prasetyo, dan Wildan Arya Prabaswara yang terlibat dari tahap observasi hingga implementasi program.

Kegiatan yang berlangsung sejak Oktober hingga Desember 2025 ini mencakup rangkaian proses mulai dari sosialisasi, pendampingan desain motif batik digital, inovasi fesyen digital, produksi fesyen, hingga pemotretan, pengambilan video, co-branding, serta pameran dan promosi.

Setiap tahap dirancang untuk menjawab kebutuhan industri batik yang semakin dinamis sekaligus memperkuat daya saing produk lokal di tengah arus modernisasi.

Para peserta Program Inovasi Seni Nusantara atau PISN. (Foto: RRI/Wiwik)

Fokus utama program terletak pada pengembangan motif batik kontemporer yang lebih sederhana dan ramah bagi generasi muda. Selain itu, PISN juga mendorong Batik Wulannik untuk melakukan diversifikasi produk melalui pengembangan jaket dan vest batik bercorak modern.

Langkah ini diyakini dapat membuka peluang pasar baru yang lebih luas dan inklusif, tanpa meninggalkan identitas lokal yang menjadi ciri khas batik Solo. Dalam pelaksanaan di lapangan, tim ISI Surakarta memberikan pendampingan intensif yang meliputi pelatihan desain, pengembangan produk fesyen, pemasaran digital, strategi branding, hingga produksi konten foto dan video profesional.

Pendampingan ini juga menekankan peningkatan kualitas visual, komposisi warna, dan konsistensi motif agar produk-produk Batik Wulannik memenuhi standar pasar yang kompetitif. Pimpinan program, Danang Priyanto, S.Tr.Sn., M.Sn., menegaskan bahwa kegiatan ini bukan hanya tentang menghasilkan desain baru, tetapi membangun keberlanjutan inovasi.

“Kami ingin memastikan bahwa Batik Wulannik tidak sekadar mengikuti tren, tetapi mampu memimpin dengan identitas kuat melalui desain yang relevan dengan kebutuhan pasar. Kolaborasi ini menjadi ruang belajar bersama, baik bagi mitra maupun bagi mahasiswa yang terlibat,” ujarnya.

Melalui program ini, Batik Wulannik diharapkan mampu memperkuat branding, meningkatkan kapasitas produksi, sekaligus memperluas jaringan pemasaran baik lokal maupun nasional. Bagi ISI Surakarta, kegiatan ini merupakan komitmen nyata dalam memberdayakan UMKM kreatif melalui transfer teknologi desain, pendampingan berkelanjutan, dan penguatan ekosistem industri kreatif berbasis budaya. (Wiwik Martani)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....