Silver Economy, Peluang Besar di Balik Usia Senja

  • 27 Jun 2026 03:08 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta – Meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia (lansia) di Indonesia tidak seharusnya dipandang sebagai beban pembangunan. Justru, kondisi tersebut membuka peluang besar melalui konsep silver economy atau ekonomi silver, yakni aktivitas ekonomi yang berkembang seiring bertambahnya populasi lansia.

Hal tersebut disampaikan Prof. Dr. Dwi Prasetyani, S.E., M.Si., Guru Besar Bidang Kewirausahaan dan Pemberdayaan Perempuan Universitas Sebelas Maret (UNS) dalam program Obrolan Siang RRI Surakarta. Menurutnya, istilah silver economy berasal dari warna rambut yang mulai memutih pada usia lanjut dan menggambarkan sistem ekonomi yang dipengaruhi oleh meningkatnya jumlah penduduk lansia.

"Silver economy itu adalah sistem ekonomi yang terdampak dari penuaan penduduk atau banyaknya populasi lansia," ujar Prof. Dwi.

Ia menjelaskan, secara global jumlah penduduk usia lanjut terus mengalami peningkatan. Di Indonesia, penduduk berusia 60 tahun ke atas kini telah mencapai lebih dari 10 persen dari total populasi. Angka tersebut bahkan mencapai sekitar 14 persen di Jawa Tengah dan sekitar 15 persen di Kota Surakarta.

"Ini harus betul-betul kita lihat bukan hanya sebagai isu demografi saja, tapi kemudian apa yang menjadi peluang dan potensi di tengah kondisi yang ada," katanya.

Prof. Dwi menilai lansia masih memiliki potensi besar untuk tetap berkontribusi dalam perekonomian. Dari sisi permintaan (demand), meningkatnya jumlah lansia akan mendorong kebutuhan berbagai produk dan layanan khusus. Sementara dari sisi penawaran (supply), para lansia masih mampu berpartisipasi sebagai pelaku ekonomi maupun wirausahawan.

Ia mengungkapkan, sekitar 54 persen lansia di Indonesia masih bekerja, mayoritas di sektor informal dan menjalankan usaha sendiri. Berdasarkan berbagai survei yang dilakukannya, para lansia juga dikenal lebih bijaksana dalam mengelola usaha dan memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi.

"Data di lapangan justru menunjukkan kemampuan mereka ternyata masih sangat besar. Jadi, kita harus melihat mereka bukan sebagai beban, tetapi sebagai aset yang berharga," ucapnya.

Menurut Prof. Dwi, motivasi lansia untuk tetap produktif dipengaruhi oleh dua faktor. Pertama, faktor pendorong berupa kebutuhan ekonomi sehingga mereka tetap bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kedua, faktor penarik berupa keinginan untuk tetap berkarya, mengisi waktu, dan memperoleh kepuasan diri setelah memasuki masa pensiun.

"Banyak yang melakukan wirausaha untuk mengisi waktu luang, sembari memenuhi kebutuhan hidup dan melanjutkan usaha keluarga. Kegiatan ini juga dapat menjadi penyelamat kesehatan mental para pensiunan," ujarnya.

Meski demikian, tantangan terbesar yang dihadapi para silver entrepreneur adalah kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital. Menurut Prof. Dwi, solusi terbaik bukan memaksa lansia menguasai teknologi secara mendalam, melainkan membangun kolaborasi antargenerasi.

Ia mencontohkan, lansia dapat berfokus pada kualitas produk dan pengalaman usaha, sementara anak atau cucu membantu dalam pemasaran digital melalui media sosial maupun platform daring. "Teknologi itu dirangkul, bukan ditakuti. Banyak lansia yang berbisnis kuliner tradisional atau kerajinan bekerja sama dengan anak atau cucunya untuk urusan digital marketing," ujarnya.

Selain itu, Prof. Dwi mengingatkan pentingnya mempersiapkan masa pensiun sejak jauh hari. Ia menyarankan masyarakat mulai memikirkan aktivitas produktif sekitar sepuluh tahun sebelum memasuki masa pensiun, dimulai dari usaha yang sesuai minat dan kemampuan tanpa harus langsung bermodal besar.

Ia juga menyoroti perlunya dukungan pemerintah dalam menghadapi meningkatnya jumlah penduduk lansia, antara lain melalui perluasan kesempatan kerja, penguatan kewirausahaan, serta penyusunan kebijakan yang lebih ramah terhadap kelompok usia lanjut.

Menutup perbincangan, Prof. Dwi mengajak masyarakat mengubah cara pandang terhadap usia senja. "Menjadi tua itu pasti, tetapi untuk tetap berdaya dan bahagia itu pilihan. Bagi para lansia jangan takut untuk terus berkarya sekecil apa pun. Pengalaman hidup adalah aset yang sangat berharga. Mari kita berikan ruang, kesempatan, dukungan, serta berkolaborasi, bukan rasa belas kasihan yang justru melemahkan," katanya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....