Pengunduran Diri Gubernur BI Berpotensi Picu Volatilitas IHSG dan Rupiah

  • 28 Jul 2026 11:53 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo diperkirakan akan menjadi perhatian utama pelaku pasar keuangan. Meski Bank Indonesia memastikan operasional dan kebijakan moneter tetap berjalan normal selama masa transisi kepemimpinan, investor diperkirakan akan mencermati arah kebijakan bank sentral serta figur yang akan ditunjuk sebagai gubernur definitif.

Di pasar keuangan, sentimen tersebut berpotensi memengaruhi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Analis menilai perubahan kepemimpinan bank sentral dapat meningkatkan kehati-hatian investor dalam jangka pendek, terutama apabila proses transisi berlangsung lebih lama dari perkiraan.

Mengutip pernyataan Chief Economist Mandiri Sekuritas, Rangga Cipta Selasa (28 Juli 2026), perhatian utama investor bukan semata pengunduran diri Perry Warjiyo, melainkan bagaimana independensi Bank Indonesia tetap terjaga.

"Pertanyaan yang lebih besar adalah independensi bank sentral. Masa jabatan yang tetap dirancang untuk melindungi independensi gubernur, sehingga pengunduran diri sebelum masa jabatan berakhir akan menjadi ujian bagi independensi tersebut," ujar Rangga Cipta sebagaimana dikutip Reuters.

Sementara itu mengutip pernyataan Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira Adhinegara pergantian kepemimpinan dapat memengaruhi persepsi investor terhadap kredibilitas kebijakan moneter Indonesia.

"Yang perlu diantisipasi setelah pengunduran diri Perry adalah melemahnya persepsi terhadap independensi Bank Indonesia. Selama tekanan politik terhadap BI masih menjadi perhatian, pasar akan terus mencermati arah kebijakan moneter," kata Bhima kepada Reuters.

Bhima menambahkan, ketidakpastian mengenai kepemimpinan baru juga berpotensi memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah dalam jangka pendek.

"Dampaknya terhadap rupiah adalah adanya tekanan akibat sinyal ketidakpastian kebijakan moneter. Pasar kini menunggu penetapan Gubernur BI definitif, bukan hanya pejabat sementara," ujarnya.

Senada dengan itu, Strategis Valuta Asing OCBC, Christopher Wong, menilai pasar kemungkinan akan memberikan respons awal terhadap perubahan kepemimpinan tersebut. Namun, menurutnya, volatilitas dapat mereda apabila proses transisi berjalan lancar dan komunikasi kebijakan Bank Indonesia tetap konsisten.

Reuters melaporkan bahwa pengunduran diri Perry Warjiyo sempat memberikan tekanan terhadap aset-aset keuangan domestik. Rupiah dan pasar saham bergerak melemah seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap independensi bank sentral, meskipun Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti telah ditunjuk sebagai pelaksana tugas Gubernur BI untuk menjaga kesinambungan kebijakan.

Bank Indonesia sebelumnya menegaskan seluruh fungsi bank sentral, mulai dari kebijakan moneter, stabilisasi nilai tukar rupiah, sistem pembayaran, hingga pengawasan makroprudensial tetap berjalan sebagaimana mestinya. Pemerintah juga menyatakan proses penunjukan gubernur definitif akan dilakukan sesuai mekanisme yang diatur dalam Undang-Undang Bank Indonesia.

Pelaku pasar kini menantikan kejelasan mengenai calon Gubernur Bank Indonesia yang baru. Kepastian tersebut dinilai penting untuk menjaga kepercayaan investor, menopang stabilitas pasar keuangan, serta mempertahankan kredibilitas kebijakan ekonomi nasional di tengah dinamika ekonomi global. (Pandu-Keuangan)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....