Investasi Harus Dimulai dari Perencanaan Keuangan, Bukan Ikut Tren

  • 08 Jul 2026 15:24 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Investasi menjadi salah satu cara untuk menjaga keamanan finansial di masa depan. Namun, masyarakat diingatkan agar tidak terburu-buru berinvestasi tanpa perencanaan keuangan yang matang dan pemahaman terhadap instrumen investasi yang dipilih.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Slamet Riyadi (UNISRI), Dorothea Ririn Indriastuti, S.E., M.Si., mengatakan bahwa langkah pertama sebelum berinvestasi adalah memastikan kebutuhan pokok telah terpenuhi dan masih memiliki sisa pendapatan. Menurutnya, investasi sebaiknya dilakukan menggunakan dana yang benar-benar tidak digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.

"Kalau pendapatan hanya habis untuk konsumsi, tentu belum bisa masuk ke investasi. Penuhi dulu kebutuhan pokok, sisanya bisa disimpan atau diinvestasikan sesuai tujuan finansial," ujarnya dalam program Obrolan Asta Cita Pro 4 RRI Surakarta, Rabu 1 Juli 2026.

Ia menjelaskan bahwa setiap orang memiliki tujuan finansial yang berbeda, mulai dari mempersiapkan biaya pendidikan anak, dana pensiun, hingga meningkatkan kesejahteraan di masa depan. Oleh karena itu, pemilihan instrumen investasi harus disesuaikan dengan tujuan, kondisi keuangan, serta profil risiko masing-masing individu agar hasil yang diperoleh dapat optimal.

Menurut Ririn, investasi tidak hanya diperuntukkan bagi masyarakat dengan penghasilan besar. Siapa pun dapat mulai berinvestasi meski dengan nominal kecil, asalkan memiliki komitmen menyisihkan sebagian pendapatan secara rutin.

Ia mencontohkan tabungan emas maupun investasi saham yang kini dapat dimulai dari puluhan ribu rupiah. "Tidak perlu menunggu kaya untuk mulai berinvestasi. Yang terpenting adalah membangun kebiasaan menyisihkan uang dan memulai dari kemampuan yang dimiliki," katanya.

Lebih lanjut, ia mengingatkan masyarakat agar tidak mudah tergiur investasi yang menawarkan keuntungan tinggi dalam waktu singkat. Menurutnya, setiap instrumen investasi selalu memiliki hubungan antara tingkat keuntungan (return) dan risiko. Semakin tinggi potensi keuntungan, semakin besar pula risiko yang harus dipahami oleh investor.

Ia juga menyarankan masyarakat memanfaatkan instrumen yang relatif aman seperti deposito, emas, obligasi pemerintah, maupun Surat Berharga Negara (SBN) sebagai bagian dari strategi investasi jangka panjang. Ririn menambahkan, investor juga perlu memahami strategi dalam berinvestasi, terutama bagi yang memilih instrumen saham.

Selain memperhatikan fundamental perusahaan, investor disarankan menetapkan target keuntungan (target return) maupun batas kerugian (cut loss) agar keputusan investasi tetap rasional dan tidak dipengaruhi emosi. Di sisi lain, diversifikasi ke beberapa instrumen investasi juga penting untuk meminimalkan risiko.

Ia mengimbau masyarakat tidak sekadar mengikuti tren atau fear of missing out (FOMO), melainkan mempelajari terlebih dahulu karakteristik investasi yang dipilih melalui sumber resmi. "Kalau hanya ikut-ikutan tanpa memahami risikonya, itu bukan investasi yang sehat. Literasi keuangan harus menjadi bekal utama agar keputusan investasi lebih bijak," ucapnya. (Hil)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....