Harga Kebutuhan Pokok Mahal, Ini Penjelasan Ekonom UNS

  • 21 Jun 2026 06:07 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID - Surakarta :- Inflasi kembali menjadi perhatian masyarakat karena dampaknya yang langsung dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok membuat masyarakat harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Dalam dialog Beranda Astacita Pro 1 RRI Surakarta, yang diudarakan pada Rabu, 10 Juni 2026, Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Surakarta, Lukman Hakim, S.E., M.Si., Ph.D., menjelaskan bahwa inflasi merupakan fenomena ekonomi yang berulang dan pernah beberapa kali terjadi dalam sejarah Indonesia. Menurutnya, yang juga Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta itu, inflasi pada dasarnya adalah kenaikan harga barang dan jasa secara umum.

Inflasi adalah kenaikan harga umum. Biasanya yang membuat inflasi tinggi itu adalah kenaikan harga bahan pokok,” ujarnya.

Ia mencontohkan bahwa pada masa lalu beras menjadi komoditas utama yang memicu inflasi, sementara pada periode berikutnya harga energi dan bahan pangan seperti cabai juga turut memberikan tekanan terhadap tingkat inflasi nasional maupun daerah. Lukman menjelaskan bahwa pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk mengendalikan inflasi, salah satunya melalui pembentukan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).

Tim ini bertugas mengidentifikasi sumber kenaikan harga sekaligus memberikan informasi kepada masyarakat agar tidak terjadi kepanikan. “Masyarakat tidak usah panik karena pemerintah berusaha mengetahui sumber inflasinya dan mencari solusi agar kondisi kembali normal,” katanya.

Berdasarkan data terbaru, tingkat inflasi di Kota Surakarta mendekati 3 persen. Angka tersebut dinilai cukup tinggi meskipun masih berada di bawah inflasi yang pernah terjadi pada 2022. Menurut Lukman, salah satu penyebabnya adalah kenaikan biaya berbagai kebutuhan yang berkaitan dengan energi dan bahan baku impor.

Begitu mata uang kita mengalami depresiasi, cost push-nya tertekan sehingga harga barang menjadi mahal. Nah, itu kemudian mendorong inflasi,” ujarnya.

Selain faktor biaya produksi, inflasi juga dipicu oleh meningkatnya permintaan masyarakat atau demand-pull inflation. Kondisi ini terjadi ketika kebutuhan terhadap suatu barang meningkat sementara pasokannya terbatas.

Barangnya sedikit, tetapi yang membeli banyak, sehingga harga menjadi naik. Dampaknya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat yang berbelanja kebutuhan sehari-hari,” ujar Lukman.

Ia menambahkan bahwa persepsi masyarakat terhadap isu kenaikan harga juga dapat memperkuat tekanan inflasi karena mendorong perilaku membeli secara berlebihan. Dampak paling nyata dari inflasi adalah menurunnya daya beli masyarakat. Dengan pendapatan yang relatif tetap, masyarakat harus menyesuaikan pola konsumsi mereka.

Untuk konsumen, inflasi menjadi beban karena kemampuan membeli menjadi berkurang. Tetapi bagi produsen, inflasi yang terkendali justru bisa mendorong semangat untuk berproduksi,” katanya.

Karena itu, inflasi tidak selalu berdampak negatif, selama berada pada tingkat yang masih dapat dikendalikan. Menghadapi situasi tersebut, Lukman mengimbau masyarakat untuk lebih bijak dalam mengelola keuangan rumah tangga.

Penghematan dan penentuan skala prioritas menjadi langkah penting agar kebutuhan pokok tetap terpenuhi. Ia juga mendorong masyarakat untuk lebih kreatif dalam memenuhi kebutuhan pangan.

Kita melakukan prioritas dan efisiensi. Mungkin ini juga menjadi peluang untuk lebih kreatif, misalnya menanam sayuran sendiri melalui hidroponik atau memanfaatkan lahan yang ada,” ucapnya. Kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah menjadi kunci untuk mengurangi dampak inflasi terhadap daya beli serta menjaga ketahanan ekonomi keluarga. (Nana Ernawati)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....