Mata Lele dan Azolla Jadi Pakan Alternatif untuk Tekan Biaya Budidaya Ikan Nila

  • 14 Agt 2026 18:05 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Pembudidaya ikan nila mulai memanfaatkan sumber daya lokal sebagai pakan alternatif untuk mendukung pertumbuhan benih sekaligus menekan ketergantungan terhadap pakan pabrikan. Dua jenis tanaman air yang dapat dimanfaatkan adalah mata lele atau mata ikan (Lemna minor) dan azolla (Azolla microphylla).

Kepala UPTD Budidaya Ikan DKPP Kabupaten Klaten, Lutvi Agung Nugrahadi saat dialog Salam PSP Pro 4 RRI Surakarta pada Kamis, 13 Agustus 2026 malam mengatakan kedua tanaman air tersebut memiliki kandungan protein yang cukup tinggi sehingga dapat diberikan sebagai pakan tambahan bagi benih ikan nila.

Kandungan protein dari mata ikan dan azolla ini kisaran di angka 30 sampai 40 persen. Jadi protein tinggi itu sangat bagus untuk pertumbuhan ikan dan juga daya tahan tubuhnya bisa lebih kuat kalau asupan proteinnya cukup,” ujar Lutvi.

Menurutnya, mata lele dan azolla bukan pengganti sepenuhnya pakan utama berupa pelet, melainkan dapat berfungsi sebagai pakan tambahan atau snack bagi ikan. Pemberian pakan alternatif tersebut dilakukan di sela jadwal pemberian pakan utama. “Pakan pokok pasti tetap diberikan. Biasanya kita pakai pelet dari pabrik. Azolla ini istilahnya kalau kita, cemilannya, snack-nya,” jelasnya.

Lutvi menjelaskan, pakan alternatif tersebut mulai dapat diberikan ketika benih ikan nila berusia lebih dari satu bulan atau berukuran sekitar lima sentimeter. Untuk benih yang masih berukuran kecil, tanaman air perlu dicacah atau dihaluskan terlebih dahulu agar lebih mudah dimakan dan dicerna. Selain itu, kondisi tanaman yang diberikan kepada ikan harus diperhatikan. Mata lele dan azolla sebaiknya masih dalam keadaan segar dan berwarna hijau. Tanaman yang sudah menguning, menghitam, membusuk, atau terserang hama harus dipisahkan dan tidak diberikan kepada ikan.

Kita enggak sampai tua. Masih hijau itu kita usahakan masih hijau, kita berikan. Enggak sampai tua, menguning atau jadi menghitam. Kalau kena ulat, menghitam atau busuk, itu tidak layak untuk diberikan ke ikan,” kata Lutvi.

Budidaya mata lele dan azolla juga relatif cepat. Menurut Lutvi, pertumbuhan kedua tanaman air tersebut dapat mencapai sekitar 20 hingga 30 persen per hari dalam kondisi yang sesuai. Bahkan, dari pengamatan di unit budidaya, kolam berukuran sekitar 3 x 20 meter atau 60 meter persegi dapat hampir tertutup tanaman dalam waktu sekitar satu minggu.

Meski demikian, kolam khusus budidaya pakan alternatif harus dijaga kebersihannya. Kolam sebaiknya tidak tercampur dengan ikan lain karena tanaman tersebut justru dapat habis dimakan. Pengamatan secara rutin juga diperlukan untuk mengantisipasi serangan hama seperti ulat maupun tanaman yang mengalami pembusukan.

Dalam praktiknya, untuk kolam pendederan berukuran sekitar 60 meter persegi, pemberian pakan alternatif berada pada kisaran 1,5 hingga 2 kilogram. Pemberian tersebut dilakukan di antara jadwal pakan utama sehingga konsumsi pelet dapat disesuaikan.

Pemanfaatan mata lele dan azolla dinilai dapat membantu mengurangi biaya produksi, terutama ketika harga pakan pabrikan mengalami kenaikan. Namun, penggunaan pakan alternatif secara berlebihan juga tidak dianjurkan karena pertumbuhan ikan tetap harus dikendalikan agar sesuai dengan ukuran dan umurnya.

Lutvi mengatakan penggunaan pakan alternatif secara penuh bahkan dapat membuat masa panen lebih panjang dibandingkan budidaya yang menggunakan pelet secara penuh. Karena itu, pembudidaya perlu menerapkan manajemen pakan secara seimbang sesuai kebutuhan ikan.

Kalau pemberian itu bisa berimbang. Kalau ingin menekan cost bisa dilebihkan juga, cuma nanti waktu panen agak mundur. Kalau full alternatif, bisa mundur antara satu sampai satu setengah bulan atau bahkan sampai dua bulan kalau tidak pakai pelet sama sekali. Jadi kita harus pintar-pintar memanajemennya,” ungkapnya.

Bagi pembudidaya pemula, Lutvi menyarankan agar budidaya tanaman pakan alternatif mulai dipersiapkan sebelum benih ikan memasuki usia yang membutuhkan pakan tambahan. Dengan demikian, ketika benih sudah siap mengonsumsi mata lele atau azolla, persediaan pakan sudah tersedia.

Ia juga mendorong para pembudidaya untuk tidak ragu memanfaatkan sumber daya lokal. Selain dapat digunakan sendiri sebagai pakan, budidaya mata lele dan azolla berpotensi menjadi kegiatan ekonomi tambahan apabila hasilnya dijual kepada pembudidaya lain.

Selain bisa untuk asupan protein yang cukup, mungkin juga bisa menekan cost dengan kondisi harga pakan yang terus naik. Mungkin itu bisa dijadikan solusi alternatif untuk pemberian pakan ikan,” tutur Lutvi.

Ia menambahkan, Unit Budidaya Ikan DKPP Kabupaten Klaten terbuka bagi masyarakat yang ingin berdiskusi mengenai pembenihan ikan maupun pemanfaatan pakan alternatif. Langkah tersebut diharapkan dapat mendorong semakin banyak pembudidaya memanfaatkan potensi lokal untuk menciptakan budidaya ikan yang lebih efisien dan berkelanjutan. (Nuri)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....