Biaya Sewa Lapak di Sekaten Solo Mahal

  • 09 Agt 2026 05:33 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta -Tingginya biaya sewa lapak di pasar malam Sekaten Keraton Kasunanan, Surakarta dikeluhkan para pedagang mainan tradisional. Mahalnya biaya sewa membuat jumlah pedagang yang biasanya memenuhi kawasan alun alun utara menyusut drastis.

Jika pada tahun tahun sebelumnya terdapat lebih dari 20 stan pedagang mainan kini hanya tersisa empat pedagang yang bertahan.

Ditemui rri.co.id Kamis 06 Agustus 2026 salah seorang pedagang mainan asal Jepara, Sukoto mengatakan biaya sewa dua lapak ukuran masing masing 3 X 3 meter pada penyelenggaraan sekaten tahun ini mencapai Rp10 juta untuk masa penjualan 1 bulan.

Menurutnya, besarnya biaya tersebut membuat banyak pedagang memilih tidak berjualan karena khawatir tidak mampu menutup modal.

"Orangnya tidak kuat bayar stan.memang kemahalan.Sewa lapak Rp10 juta untuk satu bulan.kalau dagangan tidak laku ya pusing," ujar Sukoto.

Pedagang yang telah rutin mengikuti jualan di sekaten Solo selama sekitar 15 tahun itu mengaku sudah 5 hari berjualan, minat masyarakat untuk membeli mainan belum terlalu ramai karena acara baru dibuka.

Pada hari biasa omzet yang diperoleh berkisar Rp800 ribu perhari, saat puncak keramaian pendapatan Rp1,5 hingga Rp2 juta perhari.

Adapun harga berbagai mainan turut mengalami penyesuaian harga seperti mainan gerabah jenis kecil Rp3000 sementara berbagai celengan dibanderol mulai Rp25 ribu hingga Rp150 ribu bahkan bahkan ukuran besar Rp250 ribu.

Keluhan serupa disampikan pedagang asal mayong, jepara ,nani haryani,perempuan yang telah berjualan di Sekaten sejak 1980 itu mengatakan tingginya biaya sewa lapak membuat jumlah pedagang terus berkurang. menurutnya pada dua hari pertama penyelenggaraan sekaten tahun ini pembeli masih sangat sedikit.

" Kami dua hari berjualan minat pengunjung masih sedikit, sehingga hasil penjualan baru cukup untuk memenuhi kebutuhan makan sehari hari hari," katanya.

Disisi lain, Perayaan Sekaten di Kota Solo masih menjadi magnet pengunjung bagi masyarakat, termasuk pengunjung yang sengaja datang setiap tahun beburu oleh oleh khas yang sulit ditemui di luar penyelenggaraan.

Salah seorang pengunjung asal Nogosari, Boyolali, Khairul, mengaku selalu menyempatkan diri datang ke sekaten. Menurutnya daya tarik utama sekaten bukan hanya kuliner, tetapi juga mainan tradisional yang memiliki nostalgia.

" Setiap tahun untuk berburu mainan tradisional khas, seperti celengan berbentuk kendi yang menjadi favoritenya dan perahu maianan yang menjadi icon sekaten sejak dulu.," mengisahkan.

Tak hanya mainan dari gerabah, Khairul menilai keberadaan kuliner dan jajanan tradisional seperti endog kamal serta kinang juga menjadi bagian dari kekayaan budaya yang selalu dinantikan para pengunjung setiap perayaan sekaten. (sf)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....