Mahasiswa-Generasi Pemuda Diingatkan Risiko Pendanaan Digital Modern
- 21 Mei 2026 19:58 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Generasi muda diminta lebih waspada terhadap risiko pinjaman online ilegal dan kejahatan digital di tengah pesatnya penggunaan layanan keuangan berbasis teknologi. Edukasi mengenai literasi keuangan digital dinilai penting agar mahasiswa tidak terjebak dalam penggunaan layanan finansial yang berisiko.
Hal itu mengemuka dalam kegiatan “Fintech for Future: Membangun Literasi dan Keamanan Pendanaan Digital Generasi Muda” yang digelar Fintech Academy by OVO Finansial bersama Money Festasi di Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Rabu 20 Mei 2026.
Kegiatan tersebut menghadirkan Head of Public Affairs OVO Finansial, Mekhdi Ibrahim Johan, Dosen FEB UNS Dila Maghrifani, serta Financial Planner Debora Aprianita. Diskusi membahas perkembangan pendanaan digital, ancaman fraud, hingga perilaku generasi muda dalam menggunakan layanan digital.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan kelompok usia 19 hingga 34 tahun mendominasi pendanaan macet pinjaman daring dengan porsi mencapai 48,65 persen per Maret 2026. Kondisi ini menjadi perhatian karena tingginya akses layanan digital belum sepenuhnya diimbangi kemampuan literasi keuangan.
Direktur Utama OVO Finansial, Riady Nata, mengatakan generasi muda perlu memahami keamanan digital sebelum menggunakan layanan pendanaan daring.
“Pendanaan digital membuka peluang yang besar bagi generasi muda untuk mengakses layanan keuangan secara lebih mudah,” ujarnya.
Menurut Riady, pengguna juga harus memahami cara menjaga data pribadi serta mengenali modus kejahatan siber yang semakin kompleks.
Ia mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya pada komunikasi mencurigakan yang mengatasnamakan platform keuangan digital.
“Kami mendorong masyarakat untuk selalu skeptis terhadap komunikasi yang tidak bisa diverifikasi asal-usulnya,” katanya.
Sementara itu, Dosen FEB UNS Dila Maghrifani menilai literasi keuangan digital bukan sekadar kemampuan menggunakan aplikasi keuangan, tetapi juga memahami risiko dan mengambil keputusan secara rasional.
“Jangan sampai kemudahan transaksi digital ini malah membuat kita terjebak boros hanya demi mengejar gengsi atau tren sesaat,” ucapnya.
Financial Planner Debora Aprianita menambahkan generasi muda harus memahami kondisi finansial pribadi sebelum menggunakan layanan pendanaan digital.
“Sebelum menggunakan layanan pendanaan digital, anak muda perlu bertanya pada diri sendiri: apakah ini kebutuhan, apakah mampu membayar kembali, dan apakah layanan yang digunakan legal serta terpercaya,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, Fintech Academy by OVO Finansial bersama MoneyFestasi mendorong mahasiswa menjadi pengguna layanan keuangan digital yang lebih bijak dan bertanggung jawab. Setelah Surakarta dan Purwokerto, program roadshow edukasi tersebut akan berlanjut ke sejumlah kampus lain sepanjang 2026. (Ril/Ase)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....