Istilah Halus yang Sering Digunakan untuk Menjual Sepatu Palsu
- 04 Mar 2026 10:40 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Maraknya peredaran barang palsu di pasaran membuat konsumen harus selalu waspada. Banyak penjual nakal yang menggunakan istilah-istilah teknis dan klaim meyakinkan agar produk terlihat original. Padahal, di balik istilah tersebut sering menyembunyikan fakta bahwa barang yang dijual fake atau palsu.
Mengutip dari unggahan Instagram @lique.id, salah satu istilah yang sering digunakan adalah "mirror" atau "1:1". Istilah ini merujuk pada produk yang diklaim sangat mirip dengan versi originalnya, bahkan disebut-sebut memiliki tingkat kemiripan 100% jika hanya dilihat secara sekilas saja. Kenyataanya, barang tersebut tetap memiliki perbedaan walaupun hanya sebatas detail-detail kecil saja.
Istilah lain yang sering menipu adalah “Sisa Pabrik” atau “Reject Pabrik”. Penjual biasanya mengklaim barang berasal dari jalur produksi resmi yang tidak lolos quality control. Faktanya, brand besar memiliki standar QC ketat dan produk reject umumnya dimusnahkan, sehingga klaim jalur belakang patut dicurigai sebagai modus penjualan barang replika.
Selanjutnya ada istilah “BNIB Import” atau “BNIB Global Release”. Secara umum, BNIB (Brand New In Box) berarti barang baru dalam kondisi tersegel resmi. Namun dalam praktiknya, istilah ini kerap dipelintir menjadi kode halus untuk produk non-original tanpa distributor resmi, sering kali berasal dari produksi yang tidak sah.
Di dunia sneaker, istilah "PK" atau "Perfect Kick" juga cukup populer. Sepatu dengan versi "PK God" atau "PK Version" biasanya dipromosikan sebagai produk replika dengan kualitas terbaik. Meski disebut memiliki teknologi dan detail yang menyerupai versi aslinya, produk tersebut tetaplah bukan barang resmi yang dirilis oleh suatu merek tertentu.
Menggunakan barang palsu tidak hanya berdampak pada kualitas yang buruk dan umur pakai yang singkat. Konsumen juga berisiko mengalami kerugian finansial karena telah mengeluarkan uang yang cukup banyak namun hanya mendapat produk palsu. Selain itu menggunakan barang palsu turut merugikan industri dan kreator asli yang telah bekerja keras membangun merek mereka.
Sebagai konsumen cerdas, penting untuk selalu memeriksa kredibilitas toko sebelum membeli. Jangan mudah percaya pada istilah-istilah yang terdengar meyakinkan dan harga yang sedikit lebih murah. Mulailah dari diri sendiri untuk membangun kesadaran untuk menggunakan produk original dan menjadi pembeli yang cerdas di tengah maraknya penjualan barang-barang palsu.
(Yogi Tripriyanto/Penyiar)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....