Kaldu Jamur Tak Selalu Lebih Sehat
- 22 Jan 2026 12:56 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Banyak orang menganggap kaldu jamur sebagai pilihan yang lebih sehat dibandingkan dengan penyedap rasa lainnya. Namun anggapan ini tak selalu benar karena beberapa produk kaldu jamur masih mengandung MSG, gula, dan garam yang tinggi. Maka dari itu, konsumen perlu lebih cerdas dalam membaca komposisi sebelum membeli.
Pada sejumlah produk, bahan seperti MSG, garam, dan gula justru berada di urutan pertama komposisi. Hal ini menandakan bahwa kandungan bahan tersebut lebih banyak dibandingkan dengan jamur itu sendiri. Justru rasa gurih yang dihasilkan bukan berasal dari jamur, melainkan dari ketiga bahan tambahan tersebut.
Mengutip dari unggahan Instagram @sehatsamanisa, beberapa produk komposisi jamurnya sangat rendah, bahkan di bawah satu persen. Produk seperti ini biasanya menggunakan label “kaldu rasa jamur”.
Jamur berada pada urutan terakhir komposisi, sementara bahan yang mendominasi adalah MSG dan garam. Masalah lain yang perlu diperhatikan adalah tingginya kandungan natrium pada produk.
Banyak produk yang tidak mencantumkan informasi nilai gizi secara lengkap pada kemasannya, sehingga konsumen tidak mengetahui pasti berapa jumlah natriumnya. Padahal, asupan natrium berlebih dapat meningkatkan risiko hipertensi dan gangguan Kesehatan lainnya.
Kaldu dengan label “kaldu jamur” umumnya memiliki kandungan jamur dengan persentase yang cukup tinggi. Biasanya komposisi jamurnya lebih dari sepuluh persen.
Meski begitu kaldu jamur tersebut juga masih mengandung bahan tambahan seperti gula dan garam. Batas maksimal konsumsi natrium harian yang dianjurkan adalah dua ribu milligram.
Saat ini, ada juga beberapa merek yang menjual kaldu jamur tanpa tambahan gula dan MSG. Komposisinya juga sangat sederhana tanpa ada beberapa tambahan zat aditif dan kandungan garamnya juga terhitung rendah.
Kaldu jamur seperti ini sangat direkomendasikan untuk seseorang yang sedang mengontrol kadar asupan gula dan garam harian. Secara umum, kaldu jamur tetap boleh digunakan untuk memasak sehari-hari.
Kuncinya adalah pemakaian secukupnya, dan memperhatikan komposisi saat membeli. Jangan sampai salah memilih produk yang dianggap sehat namun justru menjadi pemicu munculnya masalah kesehatan.
(Yogi Tripriyanto/Penyiar)